Saturday, June 30, 2007

Jeans

Pak Herizal (berkaos biru) menjelaskan proses
pembuatan jeans ke Pak Aris


Photo bersama setelah sharing...nyaris jam setengah dua belas malam

Kali ini saya akan cerita seputar "wawancara eksklusif" antara dua sahabat saya. Hal ini berawal dari pertemuan maya yang tidak terduga dengan teman sekelas saya waktu SMP di Solo. Namanya Aris. Kami sudah 15 tahun tidak ketemu. Komunitas TDA telah mempertemukan kami. Sungguh pertemuan ini tidak pernah saya sangka sebelumnya. Aris saat ini bekerja di Gramedia dan tinggal di daerah Kebon Jeruk. Setelah bergabung dengan TDA, semangatnya untuk mempunyai bisnis sendiri semakin kuat.
Berawal dari perbincangan saya dengan Aris via ym. Intinya Aris minta diperkenalkan dengan Pak Herizal untuk belajar seluk beluk pembuatan jeans. Pak Herizal sendiri adalah owner Polly Jeans. Saat ini dia memproduksi celana jeans dan dijual di tokonya di Tanah Abang Blok A Lt. 1 Los B No. 121-122.
Kebetulan Aris berminat untuk terjun dalam bisnis tersebut setelah melihat peluang di kota Solo. Aris sendiri memang berasal dari keluarga pedagang. Sampai saat ini, orang tua Aris berbisnis kain stock lot / sisa pabrik. Ayahnya menampung sisa produksi kain dari berbagai pabrik tekstil di Solo. Kain itu kemudian dijual kiloan kepada para pelanggan setia yang berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah. Walaupun punya kios di Pasar Klewer, namun kios itu saat ini disewakan. Para pelanggan yang hendak membeli kain kiloan, biasanya langsung datang ke rumah Aris di daerah Mangkuyudan Solo.

Akhirnya setelah saya hubungkan, mereka berdua membuat janji ketemu malam itu. Bertempat di rumah Pak Herizal di daerah Kebon Jeruk. Mendengar kabar pertemuan tersebut saya pun menyatakan minat untuk ikut. Sekaliyan temu kangen dengan Aris. Setelah dipertemukan Allah di TDA, selama ini kami hanya berkomunikasi via ym. Saya penasaran juga, kayak apa sosok Aris yang sekarang. Kebetulan juga, saya sedang jalan dengan Pak Herizal setelah membuat janji ketemu di perpustakaan nasional setelah pertemuan saya dengan PPM.

Sharing dimulai kira kira jam delapan malam dan berakhir jam sebelasan malam. Memang cukup lama. Maklumlah, sesama jagoan kain, kalau sudah ketemu langsung klop. Saya sebagai pemain baru, lebih banyak mendengar dan sesekali melemparkan pertanyaan untuk memeriahkan suasana saja.

Berikut beberapa point penting yang masih "nyangkut" dalam pikiran saya :

1. Dalam proses pembuatan jeans, semua bisa dimakloonkan (outsourcing). Kita hanya perlu beli bahan dan menentukan model. Selebihnya jasa tukang potonglah yang akan sangat berperan. Tentu saja semua ada standartnya. Untuk sekian yard kain akan jadi sekian lusin. Disamping memberikan bahan, kita juga memberikan asesoris yang diperlukan. Makin banyak asesoris tentu saja makin mahal harga jualnya dan makin susah ditiru orang.

Kain bisa dibeli dari produsen atau lewat sales. Justru kalau lewat sales, malah bisa mendapat fasilitas kredit lebih lama. Bahkan kalau mau rajin mencari, selalu ada kain yang dijual murah untuk menghabiskan stock atau penyebab lainnya.

2. Proses pencucian jeans ternyata tidak sesederhana yang saya bayangkan. Bisnis jasa pencucian jeans ini ternyata membutuhkan investasi milyaran rupiah. Perbincangan makin menarik ketika disinggung soal pemanfaatan batu apung dan berbagai obat kimia yang digunakan dalam proses pencucian. Yang paling berkesan bagi saya justru ungkapan ini : " pokoknya makin ancur, makin mahal". Alias makin "dahsyat" efek cucian pada kain, maka harga cucian per bijinya makin mahal.

3. Persaingan di bisnis ini juga tidak ringan. Pak herizal juga menjelaskan peta persaingan bisnis celana jeans di Tanah Abang. Termasuk plus minusnya, serta pengalamannya dalam bertahan. Siapa saja pemain kuat disana. Jasa cuci mana saja yang bagus untuk dipakai dan sebagainya.

Kami juga membicarakan trend pasar. Bagaimana model yang sedang "in" di Jakarta, bisa jadi baru "in" di Banda Aceh dua atau tiga bulan lagi. Begitu juga dengan dinamika trend di kota lainnya.

Sayang, sharing tersebut harus kami akhiri, karena saya harus segera pulang ke Bekasi. Saya yakin, sebetulnya masih banyak hal yang belum tergali. Namun saya harap setelah pertemuan itu, Aris dan Pak Heri akan terus berkomunikasi untuk berbagi pengalaman.

Thanks buat Pak Herizal, yang telah mengantar saya sampai Cawang.

Salam

Faif Yusuf

Perpustakaan Nasional


Di halaman Perpustakaan Nasional RI Salemba


Kalau ini di depan kolam air mancur Perpustakaan Nasional




Pada hari Kamis, 21 Juni 2007, setelah pertemuan dengan PPM saya mengunjungi Perpustakaan Nasional RI di Salemba. Sebetulnya keinginan untuk berkunjung ke sana sudah ada sejak lama. Sayang, selalu ada "alasan" yang tepat untuk menundanya. Padahal sudah tidak terhitung lagi saya naik bus melewati depan Perpustakaan tersebut.

Selepas bertemu dengan direktur PPM, Bp. Andi Ilham Said Phd., dalam perjalanan pulang saya terinspirasi untuk mampir ke Perpustakaan Nasional tersebut. Saya putuskan juga untuk mencari tahu manfaat apa saja yang bisa saya dapatkan disana. Sayapun langsung mendaftarkan diri sebagai anggota. Pelayanannya lumayan cepat. Saya mengisi formulir pendaftaran dan langsung menyerahkannya berikut uang pendaftaran Rp. 15.000.- untuk masa keanggotaan satu tahun. Cukup murah menurut saya.

Tidak lama kemudian, saya dipanggil untuk masuk ruangan di dekat loket pendaftaran untuk pengambilan photo. Kartu anggota pun langsung jadi, plus photo saya disana. Kartu anggota yang saya dapat, cukup bagus designnya, seperti SIM. Total waktu pembuatannya kira kira 15 menit (mulai dari menyerahkan formulir sampai kartu jadi). Sayapun langsung bisa memanfaatkan semua fasilitas yang ada di perpustakaan tersebut.

Sebelum masuk ruang koleksi/referensi saya dipersilahkan untuk menitipkan tas di tempat yang disediakan. Cukup isi buku tamu dan cantumkan no anggota saja. Saya langsung diberi kunci locker dengan no tertentu. Nah, tas dan barang pribadi saya simpan di locker dengan no yang tertera dikuncinya.

Di lantai dasar sebelah kanan lift, ada ruang koleksi majalah, koran, buletin dan lain lain. Bagi yang sedang riset dan mencari referensi, tinggal isi form majalah atau koran apa yang dicari, range waktunya kapan. Maka petugas akan segera mengambilnya untuk kita. Setahu saya, semua arsip terbitan dua tahun terakhir tersedia di ruang tersebut. Maklumlah, perpustakaan ini memang mendapat jatah hibah dari semua penerbitan di Indonesia.

Saya meneruskan "petualangan" ke ruang koleksi buku di Lt.3. Ruang bacanya cukup nyaman. Kelemahannya kita nggak bisa mengambil sendiri koleksi tersebut. Kita juga nggak bisa membawa pulang. Jadi cukup baca di tempat saja. Kalau mencari sebuah literatur, kita bisa memanfaatkan fasilitas katalog online yang ada di setiap sudut ruangan. Kita juga bisa memanfaatkan fasilitas WIFI gratis disini. Sehingga kalau mau online, tinggal klik saja.

Saya juga sempat memanfaatkan fasilitas WIFI gratis tersebut. Walaupun dengan berdiri. Buka blog, lihat email, plus mengunjungi situs favorit. Wah..saya jadi kepikiran punya laptap yang sudah ada WIFI nya. Sehingga kalau "hang out" di sini, tinggal klik saja.

Kalau lapar kita tinggal ke kantin saja. Menunya lengkap. Ada bakso, mie ayam, gado-gado dan lain lain. Harganya juga cukup murah. Kalau mau sholat tinggal jalan dikit aja. Ada mushola di dekat kantin tersebut.

Hm...saya merasa mendapatkan "tongkrongan" baru. Perpustakaan nasional ini cukup kondusif untuk "nyepi", menikmati kesendirian, dan tentu saja terus belajar dan berkarya. Satu lagi yang membuat saya gembira, perpustakaan ini juga buka di hari Sabtu, walau hanya setengah hari saja.

Anda tertarik? kunjungi aja http://pnri.go.id/

Salam

Faif Yusuf

Friday, June 29, 2007

Mengalahkan Ketakutan

Kegembiraan mengatasi rintangan dan mengalahkan ketakutan.
Saya berada paling depan ( sedang mengangkat dayung)


Saking excited-nya, dayung saya nyaris terlepas


Akhirnya tim saya mencapai finish sebagai juara I

Tahun lalu saya bersama beberapa orang teman, mengikuti kegiatan rafting atau arung jeram. Acara dilaksanakan pada hari Sabtu, di sungai Citarik Sukabumi. Ketika diajak bergabung dalam event ini, saya sempat berpikir dan ragu ragu. Bayangan keganasan medan rafting yang sering saya lihat di TV tampak nyata di mata saya. Namun keinginan untuk mencoba pengalaman baru sangat kuat dalam benak saya. Akhirnya setelah beberapa saat mempertimbangkan, saya memutuskan untuk turut serta.

Sampai di lokasi, kecemasan saya tidak hilang juga, malah semakin menguat. Apalagi ketika melihat batu batu besar yang seakan akan "menantang" saya untuk menaklukkannya. Ketika diadakan briefing oleh instruktur, kekhawatiran saya justru berubah menjadi ketakutan yang amat sangat. Instruktur membagi kami dalam beberapa tim. Satu tim terdiri dari 4-6 orang. Instruktur menjelaskan berbagai teknik agar kita bisa selamat sampai tujuan. Kalau tidak hati hati maka resikonya bisa celaka. Minimal pulang dengan luka luka.

Saya lihat teman teman di sekeliling saya. Walaupun mereka kadang tertawa, namun saya juga melihat gurat kekhawatiran di wajah mereka. Saat itu saya sempat berpikir untuk mundur. Apalagi saya tidak pandai berenang.Bagaimana nanti kalau perahu terbalik, dan saya hanyut dibawa arus sungai Citarik yang deras. Jiwa saya bergejolak. Keringat dingin saya keluar. Jari jari tangan saya serasa lemas.

Namun saya juga berpikir, "masak sudah sampai di sini mau mundur lagi, malu dong". Akhirnya dengan Bismillah :"saya yakinkan diri saya sendiri, bahwa saya pasti mampu menjalaninya. Saya membayangkan bisa menaklukkan batu batu besar yang dari tadi serasa "mengejek saya". Saya pasti bisa melewati segala rintangan dengan keyakinan dan kerja keras antar sesama anggota tim yang telah dibentuk.

Kami mengambil paket rafting untuk jarak menengah. Panjang perjalanan sekitar 9 KM. Biasanya rute tersebut bisa diselesaikan dalam waktu empat jam. Ketika saya baru naik ke atas perahu karet, tiba tiba perahu bergoyang. Badan saya oleng. Saya pun panik bukan kepalang. Instruktur saya dengan sabar meyakinkan dan menenangkan diri saya.

Akhirnya setelah kami berdoa bersama. Perjalanan dimulai. Saya memegang dayung dengan amat erat. Seerat eratnya. Arus sungai Citarik waktu itu memang cukup deras. Kamipun mendayung dengan penuh semangat. Semua instruksi dari instruktur kami taati. Hal ini semata mata untuk keselamatan kami juga. Ketika ada pohon yang menjulur ke sungai, kami diinstruksikan untuk "tiarap". Ketika perahu menabrak dan terjepit diantara bebatuan yang amat besar, kami mengatur posisi duduk dan melakukan gerakan "encot encotan" sehingga perahu bisa terus menyelinap di sela sela bebatuan.

Saat perjalanan masih sekitar setengah jam, hati saya masih deg degan ketika melihat pusaran air yang ada di depan mata. Ketakutan masih menggelayuti diri saya. Namun begitu rintangan demi rintangan bisa dilalui dengan baik, keyakinan diri saya semakin bertambah. Saya pun makin percaya diri. Begitu juga dengan teman teman saya. Begitu melihat rintangan/pusaran air yang tampaknya "menakutkan", semangat kami justru makin membuncah untuk segera menaklukkannya. Walaupun kami menyadari bahwa mengatasi rintangan tidak semudah yang kami kira. Setiap rintangan selalu ada keunikan dan membutuhkan strategi tersendiri dalam mengatasinya.

Yang pasti setiap selesai melalui suatu rintangan, hati saya senang luar biasa. Puas. Apalagi kalau berpapasan dengan tim lain. Kami saling "ledek ledekan". Saling serang dengan mencipratkan air sungai dengan bantuan dayung kami. Kalau ada tim lain yang terjebak dalam bebatuan dan berhasil kami salip, kami juga mengeluarkan teriakan ejekan. Biasanya setelah melihat ejekan kami, tim lain tersebut ( teman kami juga), akan termotivasi untuk segera keluar dari jebakan dan berusaha sekuat tenaga untuk menyusul kami. Susul-menyusul, salib- menyalib, menjadikan perjalanan rafting yang menuntut kekuatan fisik ini serasa amat dinamis dan menyenangkan.

Tanpa terasa perjalanan yang kami tempuh selama kira kira 4 jam tersebut, telah mencapai jarak 9 KM. Tim saya ternyata menjadi tim yang pertama kali mencapai finish. Cihui...kami bersorak karena berhasil menjadi juara. Kamipun melakukan "toss" bareng dan saling mengucapkan selamat. Setelah itu kami minggir dan naik ke atas sungai dan disambut oleh kelapa muda yang siap untuk dinikmati.

Hari itu saya belajar tentang bagaimana mengalahkan ketakutan. Dampaknya bukan hanya ketakutan saja yang hilang, tetapi juga mendapatkan kesenangan dan kepuasan yang luar biasa.

Pengalaman mengalahkan ketakutan ini juga pernah saya alami di kantor. Waktu itu hari Jumat. Saya sedang duduk beriktikaf di masjid kantor saya. Jam menunjukkan hampir pukul 12 siang. Tapi belum juga ada pengurus DKM yang maju untuk memberikan beberapa pengumuman seperti biasanya. Saya lihat beberapa pengurus DKM nampak sedikit panik dan melakukan musyawarah kecil di depan mimbar. Sesaat kemudian, disaat saya sedang khusyu' beriktikaf, salah seorang pengurus DKM menepuk pundak saya dan mengajak bersalaman. Aneh, ada apa nih?

Singkat kata, pengurus tersebut meminta tolong kepada saya untuk menggantikan Khotib yang sampai detik tersebut belum hadir. Pengurus sudah berusaha telpon untuk konfirmasi, namun tidak ada hasilnya alias mailbox. Jantung saya saat itu langsung berdegub kencang. Hati saya deg degan. Dalam hati saya ingin menolak permohonan tersebut. Pertimbangan saya karena terlalu mendadak, dan sama sekali tidak ada persiapan. Namun desakan pengurus DKM tersebut meluluhkan hati saya.

Akhirnya saya menyatakan sanggup. Padahal saat itu saya masih belum punya ide, materi apa yang akan saya sampaikan. Keringat dingin saya mulai keluar. Sudah lama sekali saya tidak naik ke atas mimbar. Apalagi untuk khutbah Jumat yang diikuti oleh ribuan Jamaah. Maklumlah, karyawan pabrik di tempat saya bekerja saat ini jumlahnya memang ribuan. Namun saya juga berpikir, masak sholat Jumat yang dihadiri sekian ribu Jamaah ini gagal terlaksana atau mundur, hanya gara gara tidak ada yang berani menjadi Khotib dan Imam. Saya juga menyaksikan betapa banyak jamaah yang mulai gelisah karena ritual Jumat belum juga dimulai.

Selesai memberikan pengumuman rutin, pengurus DKM mempersilahkan saya untuk naik ke atas mimbar. Dengan mengucap bismillah, saya naik ke mimbar dan mengucapkan salam. Ketika Muadzin sedang melantunkan adzan, sambil duduk saya berusaha "mengais ngais" ilmu yang selama ini saya dapatkan. Tentu saja termasuk satu dua ayat Al Quran atau Hadist sebagai dalil penguat. Akhirnya hati saya mantap untuk menyampaikan tema tentang" Keutamaan Menuntut Ilmu dan pentingnya menjadi seorang pembelajar".

Begitu adzan selesai, saya memulai khutbah dengan mencurahkan segala kemampuan saya. Aneh sekali, ketika saya mulai bicara, ketakutan saya langsung hilang. Deg degan saya lenyap seketika. Walaupun kadang agak terbata bata, saya berhasil menyampaikan amanah khutbah tersebut dengan baik. Setelah selesai memimpin Sholat Jumat, dan kembali ke kantor, tanggapan teman teman saya luar biasa. Bahkan atasan saya sendiri setengah tidak percaya. Kok ternyata saya bisa berbicara dengan fasih di depan orang banyak. Bahkan ada seorang teman dari departemen marketing, yang dengan antusias menyalami saya, sambil berkata : " Selamat If, elu...canggih banget. Selama 7 tahun gue sholat Jumat disini, baru kali ini gue kagak ngantuk he...he...". Saya membalas komentar teman saya tersebut dengan "cengar cengir" saja.

Pada hari Jumat yang lain, selang beberapa hari setelah gempa melanda Yogya, saya juga memperoleh permohonan yang sama. Waktu itu saya sedang mengambil air Wudhu, ketika tiba tiba seorang pengurus menghampiri saya. " Pak Faif, minta tolong ya...hari ini khotibnya berhalangan". Sayapun tidak kaget lagi dan menyanggupinya. Saya lihat jam tangan saya, dan masih ada waktu 15 menit untuk mempersiapkannya. Saya minta pengurus untuk menunggu sebentar. Saya bilang, saya mau ambil sesuatu dulu di meja kantor saya.

Masjid di kantor saya memang dekat. Lokasinya di Lantai 2, bersebelahan dengan Hall/ Ruang pertemuan. Sesampai di meja kantor, saya langsung buka republika online, dan langsung masuk ke rubrik hikmah. Prediksi saya, pasti ada uraian hikmah tentang bencana gempa di Jogya. Ternyata dugaan saya tepat, ada tulisan tentang "hikmah di balik musibah" di rubrik Hikmah Harian Republika. Saya langsung print out tulisan tersebut, dan saya pelajari sambil jalan ke masjid. Tema tersebut saya jadikan inti khutbah dengan tambahan penjelasan semampu saya.

Walaupun masih ada "deg degan" di hati saya, namun saya memutuskan untuk mengabaikannya. Alhamdulillah, saya bisa menunaikan amanah tersebut dengan baik. Selesai sholat Jumat, saya pamit kepada pengurus DKM untuk kembali bekerja. Saat bersalaman, saya kaget ketika menyadari bahwa pengurus DKM menyelipkan amplop di saku seragam kerja saya. Tentu saja saya menolaknya. Tetapi pengurus DKM bersikeras agar saya menerimanya sebagai wujud penghargaan mereka atas bantuan saya. Akhirnya saya "terpaksa" menerimanya sebagai rezeki Allah yang tidak diduga duga.

Ketakutan yang sama juga sempat saya alami ketika saya hendak membuka toko busana muslim "Kafana Distro". Namun portofolio pengalaman mengalahkan ketakutan selama ini mampu menguatkan saya untuk segera "take action". Alhamdulillah, saat ini toko saya tersebut semakin berkembang dan terus menunjukkan hasil yang positif.

Jadi, bagi Anda yang saat ini masih dibayang bayangi ketakutan, bertindaklah. Take Action. Niscaya ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya.

Saya yang selama ini "bergelut dengan keterbatasan" saja bisa, apalagi Anda.

Salam

Faif Yusuf

Thursday, June 28, 2007

Insight Of The Day

You are never given a dream without also being given the power to make it true. You may have to work for it, however.

- Richard Bach -

Jennie S. Bev

Photo Jennie di atas saya terima seminggu yang lalu.
Dikirim jauh jauh dari Kalifornia Utara Amerika Serikat.
Thanks ya Jen...


Semenjak posting "Pengalaman Luar Biasa" banyak pengunjung blog ini yang bertanya kepada saya tentang profile Jennie S Bev. Supaya mendapatkan informasi lebih lengkap saya tulis ulang saja, profil Jennie yang ada di buku Mindset Sukses. Semoga dengan posting ini para pembaca bisa mengenal lebih dekat, sosok sahabat saya ini.

Jennie S. Bev terlahir dengan nama Jennie Siat di Menteng, Jakarta Pusat. Setelah menikah dan pindah ke Amerika Serikat, namanya disingkat menjadi Jennie S Bev, semata mata supaya mudah dilafalkan. Ia sekarang bermukim di Kalifornia Utara sambil bekerja di beberapa perusahaan yang didirikannya sendiri di bidang e-commerce dan konvesional lainnya. Penerbitan onlinenya telah menarik beberapa klien selebritas kelas dunia.

Di Indonesia, ia dikenal sebagai penulis buku motivasi laris berjudul Rahasia Sukses Terbesar, terbitan Bornrich Publishing, yang seluruh royaltynya disumbangkan untuk anak anak yatim piatu dan terlantar. (Pertanggungjawaban distribusi royaltinya bisa dibaca di Jennieforindonesia.com)

Ia merampungkan studi SD samapai SMAnya di St.Theresia, Menteng, Jakarta. Sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, pasca sarjananya di bidang administrasi bisnis dan pendidikan di raih di California State University Hayward dan Northcentral University, serta studi technical writing di UC Berkeley dan UCLA extension. Sampai saat ini (awal 2007), ia sedang mempersiapkan disertasi doktoralnya. Ia dikenal sebagai salah satu lulusan terbaik dan tercepat di FHUI di angkatannya (lima besar) serta lulus dengan predikat summa cum laude di tingkat pascasarjananya.

Ia memilih bidang pendidikan selain administrasi bisnis karena ia menyadari pentingnya keseimbangan intelektual, dimana bisnis sebaiknya diimbangi dengan hati seorang guru dan jiwa seorang filantropis humanis. Ia juga menyadari bahwa untuk bertahan hidup, seseorang harus belajar setiap hari. Dengan menerapkan metode constructivism, ia bisa memaksimalkan hidup sehingga mampu berkarya berkali kali lipat.

Karirnya sebagai penulis dimulai pada tahun 1995 ketika aktif menulis artikel opini reflektif untuk tabloid Kontan dan The Jakarta Post. Saat itu pelatihan virtual dan eksekutif portabel masih merupakan hal yang langka. Hampir sepuluh tahun kemudian, namanya dikenal sebagai salah satu eksekutif portable dan perintis penerbitan /pelatihan virtual yang diakui di mancanegara.

Di tahun 2003, ia mendapatkan penghargaan finalis EPPIE Award (USA) untuk kategori penulisan publikasi elektronik untuk bukunya yang diterbitkan oleh Fabjob, Inc. (Canada) yang berjudul Guide to Become a Management Consultant. Saat ini, ia telah menelurkan 1.000 artikel dan lebih dari 60 buku elektronik (e-book) dan cetak yang diterbitkan di Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, Jerman, dan Singapura.

Sebagai penulis, topik-topik yang dikuasai dan disukainya termasuk motivasi, bisnis, masalah masalah sosial dan spiritual, kemanusiaan, proses belajar dan mengajar, dan teknik penulisan. Untuk prestasinya yang unik di bidang wirausaha, pendidikan, dan tulis menulis, ia sering diwawancarai sebagai nara sumber dan profilnya pernah dimuat di Entrepreneur, Canadian Business, Teen People, The Independent, San Francisco Chronicle, Arizona Republic, The Daily Southtown, Audrey, dan Home Business.

Di Indonesia, profilnya pernah di muat di Intisari, Dewi, Fit, Femina, Bisnis Kita, Chic, dan Koran Tempo. Artikel tentang buku pertamanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Rahasia Sukses Terbesar pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Marketing dan lain lain. Artikel akademisnya di bidang pendidikan pernah dimuat di The Journal of Lifelong Learning yang diterbitkan di Inggris.

Perjuangan hidup, prestasi, dan blog-nya bisa dibaca di JennieforIndonesia.com (dwibahasa dalam Bahasa Indonesia dan Inggris). Saat ini ia bermukim di Kalifornia Utara, di sekitar San Francisco Bay Area, sambil terus belajar dan berkarya.

Salam

Faif Yusuf

Wednesday, June 27, 2007

Akhirnya saya EDAN juga

Photo bersama peserta workshop EDAN batch 13
Lihat aja ekspresi mereka.....PD abis.....


Bersama Sang Master Trainer EDAN, Bp. Ikhwan Sopa

Bersama Ibu Wiwi, Ibunda Jennie S Bev.

Apakah Anda sering merasa minder ?
Apakah Anda sering tidak percaya diri ketika berbicara di depan umum?
Apakah Anda sering merasa ragu ragu dalam mengambil keputusan?
Apakah Anda sering takut mengambil resiko?

Jika Anda sering mengalami hal di atas. Maka saya ingin menyampaikan bahwasanya Anda tidak sendirian. Saya juga sering mengalaminya.

Menyadari hal tersebut, seminggu yang lalu, ketika sedang berbincang dengan sahabat saya, Pak Herizal, saya utarakan maksud saya untuk mengikuti workshop EDAN. Gayung bersambut. Pak Herizal, Owner Polly Jeans, juga amat berminat untuk mengikuti workshop tersebut. Akhirnya kamipun bersepakat untuk mencari informasi dan mendaftarkan diri pada workshop tersebut.

Beberapa hari setelah perbincangan tersebut, ada sebuah email yang masuk dalam inbox saya. Saya lihat pengirimnya. Wow….Pak Ikhwan Sopa. Sang Master Trainer EDAN, yang selama ini baru saya kenal lewat tulisan tulisannya yang amat inspiratif.

Dengan hati dag dig dug, saya buka email tersebut. saya baca pelan pelan. Agar tidak ada yang ketinggalan. Selesai membaca, saya tertegun setengah tidak percaya. Saya baca sekali lagi. Kali ini lebih pelan dan lebih hati hati. Begitu saya yakin dengan yang saya baca. Hati saya langsung bersorak. Semangat saya meluap luap.

Saya mendapatkan kesempatan mengikuti workshop EDAN sebagai undangan khusus. Undangan Pak Sopa ini sungguh merupakan kehormatan bagi saya. Apalagi saya diundang bersama dengan 10 orang “tokoh” yang amat saya kagumi selama ini.

The law of attraction that works ! Baru beberapa hari saya memancangkan niat dalam hati, tiba tiba datang undangan work shop sebagai jawaban atas apa yang terbetik di hati saya.
Saya kembali membuktikan, bahwa apa yang kita fikirkan akan menjadi magnet yang amat kuat, yang akan menarik hal tersebut untuk terjadi.

Selama ini saya mengenal Pak Sopa "hanya" melalui tulisan Beliau. Sama sekali belum pernah bertemu. Berkomunikasi via email secara pribadipun juga belum pernah. Apalagi menelepon. Saya sungguh kaget akan undangan ini. Betapa banyak kelimpahan yang saya terima.

Saya langsung mengirimkan email konfirmasi ke Pak Sopa dan membatalkan keikutsertaan saya dalam workshop property . Berhubung waktunya bersamaan, 23 Juni 2007, saya harus memilih salah satu. Dalam hati saya saat itu, ilmu property bisa saya pelajari langsung dari para sahabat yang akan mengikuti workshop tersebut.

Ternyata keputusan saya cukup tepat. Saya menemukan berbagai solusi atas berbagai faktor yang menghambat perkembangan diri saya selama ini.

Saya banyak melakukan redefinisi terhadap beberapa pemahaman saya yang salah kaprah.
Workshop EDAN ternyata bukan semata mata workshop public speaking.
Workshop yang amat powerful ini sebetulnya adalah workshop pengembangan diri yang action oriented, dan memakai public speaking sebagai modeling template-nya.
Pemahaman saya akan konsep EDAN yang saya baca dari tulisan Pak Sopa, ternyata masih amat dangkal. Melalui metode role playing dan pembelajaran secara langsung, apa yang saya pahami tentang Energi, Dignity, Anticipation, dan Nothing To Lose, semakin membekas di hati saya.
Workshop ini berjalan dengan amat efektif berkat kelihaian Pak Sopa dalam menyampaikan materi dan partisipasi peserta 100%.
Saya sungguh beruntung bisa mengikuti Workshop EDAN angkatan 13 ini. Disanalah saya berkenalan dan akhirnya bersahabat dengan orang orang yang selama ini saya kenal dan saya kagumi.
Walaupun baru pertama kali bertemu muka, kami para peserta bisa langsung akrab. Mempunyai komitmen bersama untuk menjalin persahatan yang tulus, saling membantu, dan saling mendukung. Sekali lagi, hal ini tidak lepas dari metode role playing dan kerja sama yang dibangun peserta dengan arahan Pak Sopa.

Selain transformasi diri yang saya alami, saya juga mendapatkan manfaat networking yang luar biasa dari workshop tersebut.
Saat ini saya telah bersahabat dengan Pak Hari Subagya.
Seorang Change Motivator, Penulis buku Time To Change, dan Success Proposal & TTC in Selling.
Pak Hari adalah Founder dan Owner BisnisPartner.com.
yang merupakan "House of Indonesian Speaker". Jika Anda membutuhkan Pembicara Top Nasional seperti Andri Wongso, James Gwee, Tung DW, dan lainnya, silahkan berkunjung ke situs tersebut. Semua Pembicara Top sudah ada di sana, lengkap dengan profilenya, tinggal pilih saja.

Saya juga mempunyai kesempatan untuk sharing dengan Ibu Wiwi, Ibunda Jennie S Bev.
Seorang Fashion Designer dan Direktur PT. Afton Asia. Dari perbincangan tersebut, saya baru tahu kalau ternyata Ibu Wiwi, sering mengunjungi blog saya.
Dari obrolan ringan di sela sela workshop, saya jadi kenal sosok Jennie S Bev lebih dekat. Ibu wiwi juga menyampaikan cerita cerita lucu masa kecil Jennie.
Tidak lupa saya tanyakan juga, rahasia dan peran seorang Ibu Wiwi sehingga Jennie bisa sukses di tanah rantau seperti sekarang. Jawaban Ibu Wiwi singkat : " Support".
Ibu Wiwi menegaskan bahwa dia selalu memberikan support kepada Jennie. Ketika Jennie membuat kesalahan atau "kegagalan", dia selalu memberikan semangat untuk mencoba lagi.

Saya juga bersahabat dengan Ibu Lies Sudianti.
Founder The Professional & Entrepreneur Club (The Profec). Penampilannya funky dan energic.
Saya kagum dengan semangat beliau yang luar biasa. Apalagi dengan gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan sering membuat saya harus tertawa.

Saya untuk pertama kalinya juga bertemu langsung dengan Pak Jonru. Seorang penulis tulen dan Founder penulislepas.com. Pak Jonru beberapa hari lalu, sempat membuat badan saya panas dingin, dengan postingannya yang amat provokatif di milis TDA.
Saya juga bertemu dan berkenalan dengan Bapak Sinang Bunawan.
Founder milis Sekolah Kehidupan yang saya ikuti. Orangnya amat santun dan berwibawa.
Senyumnya memancar penuh kharisma.

Saya juga berkenalan dengan Bapak Tarmizi Yusuf. Trainer dan Penulis 23 buku motivasi dan pengembangan diri.

Saya juga bertemu dan berbincang akrap Pak Aldi, member TDA yang sebentar lagi akan meluncurkan sebuah buku.
Saya bertemu dengan Pak Yond. Alumni S-3 dari Nagoya University dan ahli di bidang governance.

Saya juga berkenalan dengan Pak Hari, Mbak Eni, dan peserta lainnya yang luar biasa.

Workshop yang ikuti 21 orang kemarin memang benar benar powerful. 100% peserta menyatakan puas. Hal ini bisa dilihat dari testimoni peserta yang di muat di milis bicara.

OK, Having Fun dulu yuuk.....
Kita nyanyikan lyric lagu Bon Jovi yang fenomenal ini :

It's my life
It's now or never
I ain't gonna live forever
I just want to live while I'm alive
(It's my life)
My heart is like an open highway
Like Frankie said
I did it my way
I just wanna live while I'm alive
It's my life
………..
............
Entahlah, semenjak ikut workshop EDAN di hotel Sofyan Cikini, saya jadi ngefans sama lagu Bon Jovi tersebut. Bahkan saat workshop, saya, Ibu Lies, Ibu Wiwi, dan peserta yang lain ikut "jingkrak jingkrak" sambil menyanyikan lagu tersebut dengan diiringi musik, dan dipandu oleh Pak Sopa.
Kalau Anda mengunjungi web milik sahabat saya, Hari Subagya, http://bisnispartner.com/, hidupkan sound komputer Anda, maka Anda juga akan disambut dengan lyric lagu tersebut.
Akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Pak Sopa.
Anda memang benar benar Master EDAN.
Jika workshop EDAN diadakan di komunitas TDA.
Saya berniat daftar lagi, sebagai peserta no urut yang pertama.
Biar makin EDAN.
Salam
Faif Yusuf

Monday, June 25, 2007

Satu Alasan

Bersama Sang Ibunda, di hari pernikahan saya
Dalam perjalanan menuju PPM, hari Kamis kemarin, saya merasakan pengalaman bathin yang amat hebat. Pengalaman ini terjadi tatkala saya masih berada dalam bus Mayasari Bhakti No. 9A, jurusan Bekasi-Senen. Akhir akhir ini saya memang sering naik bus jurusan tersebut. Suasana bus yang panas dan penuh sesak dengan penumpang tidak menyurutkan semangat saya.

Walaupun sudah mempersiapkan pertemuan tersebut malam sebelumnya, saya tetap berusaha mematangkannya selama duduk dalam bis tersebut. Saya melakukan visualisasi bagaimana saya akan sukses dalam pertemuan tersebut.
Saya membayangkan akan disambut dengan hangat dan kemudian berbincang akrab dengan Pak AIS. Setelah visualiasi tersebut, saya merasa lebih relaks. Saya merasa lebih PD karena sudah punya gambaran mental, akan apa yang akan terjadi dalam pertemuan tersebut.

Sesaat kemudian, saya keluarkan buku Mindset Sukses dari dalam tas saya. Saya juga membuka surat Jennie yang berisi photo yang ditandatanganinya dan pesan sukses sebagai tanda persahabatan. Surat tersebut saya terima beberapa hari yang lalu, dikirim langsung oleh Jennie dari Kalifornia Utara. Saya lakukan hal ini, semata mata untuk menguatkan diri saya. Maklumlah, pertemuan ini adalah pengalaman pertama bagi saya.

Saya kembali membaca buku Mindset Sukses tersebut dengan penuh penghayatan. Saya berharap dengan usaha ini, presentasi saya nanti tidak hanya berasal dari pemahaman otak semata, tetapi melibatkan hati saya. Pengalaman saya, manakala kita berbicara dari hati yang paling dalam, dampaknya akan dahsyat. Kekurangan teknis bisa tertutupi dengan antusiasme yang tinggi dan ketulusan dalam mengungkapkannya.

Setelah sampai daerah Jatinegara, tibalah saya pada alinea yang menjelaskan bahwa kita memang selalu punya banyak alasan untuk tidak sukses, tapi kita hanya perlu satu alasan untuk sukses". Saya ulangi lagi kalimat tersebut. Kita cuma perlu satu alasan untuk sukses di antara seribu alasan untuk tidak sukses. Saya juga tertegun dengan satu alasan Jennie, sehingga dia mempunyai tekad yang amat kuat untuk membangunkan sukses dari dalam dirinya.

Jennie menjadikan "ketidaknyamanannya menggigil di pinggir jalan, ketika menunggu kendaraan umum di musim dingin", plus keinginannya untuk berbagi kepada banyak orang, sebagai satu alasan yang kuat untuk sukses.

Saya langsung mencoba menggali lebih dalam. Saya mencari satu alasan kuat untuk sukses. Saya melakukan kilas balik perjalanan hidup saya. Saya meng"audit" berbagai pengalaman dalam hidup saya.

Akhirnya sampailah imaginasi saya terhadap sosok Ibu saya. Saat ini Beliau tinggal di pinggiran Kota Solo.

Ibu saya adalah sosok wanita yang amat luar biasa. Saya pertama kali belajar mengenai kehidupan dari Beliau. Sayapun mulai hanyut dengan " bayangan kemesraan" bersama Ibu saya.

Saya membayangkan saat ini Ibu saya sedang berjuang mengayuh sepeda sejauh puluhan kilo meter. Seminggu dua kali dia harus pergi ke Pasar Gemolong untuk belanja makanan ringan untuk di jual lagi pada acara TPA sore hari di masjid dekat rumah saya. Ya, "hanya" jualan makanan ringan buat anak anak TPA. Tentu saja keuntungannya sangat tidak seberapa.

Ibu saya adalah orang yang paling berempati dengan perjuangan saya dalam menyelesaikan kuliah. Beliau sering meminta maaf ketika tidak bisa memberikan uang saku kepada saya. Saya sudah mencoba membesarkan hatinya. Namun permintaan maaf tersebut masih sering saya dengar.

Ketika saya sudah lulus dan bekerja, saya sisihkan sebagian rezeki tersebut buat Ibu saya. Sayang jumlahnya tidak seberapa. Karena pendapatan saya sebagai karyawan ternyata memang amat terbatas. Namun tiap kali saya mengirimkannya, Ibu saya tidak henti hentinya mengucapkan terima kasih.

Bayangan perjuangan Ibu saya semakin mengental dan semakin kuat. Kerut wajah ibu saya yang sedang mengayuh sepeda, tergambar kuat di mata saya. Walaupun terbersit kelelahan fisik yang luar biasa, tidak ada kata mengeluh dalam kamus hidupnya. Bayangan wajah ibu saya semakin kuat. Bayangan tersebut serasa menggedor gedor relung kesadaran jiwa saya.

Tanpa sadar, mata saya mulai berkaca kaca. Saya pun tidak kuasa menahan air mata. Hati saya luluh. Sayapun menangis tersedu sedu. Saya benar benar menangis sejadi jadinya.

Saya tidak peduli lagi dengan keheranan penumpang lain yang ada di dalam bus tersebut. Saya benar benar tidak kuat menahan air mata saya. Saya ingin menumpahkan kerinduan kepada Ibu saya. Setelah sekian lama susah sekali menangis, waktu itu saya benar benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Hati saya serasa "plong".

Saya merasa telah menemukan satu alasan kuat untuk sukses.

Saya tidak kuat membayangkan perjuangan Beliau untuk memenuhi kebutuhan hidup di kampung.

Saya ingin membahagiakan Ibu saya.

Saya ingin memberikan yang terbaik untuk Ibu saya.

Saya ingin Beliau bangga punya anak seperti saya.

Tangisan saya baru bisa terhenti ketika bis 9A tersebut sampai Kwitang. Saat saya harus turun dan ganti bis yang menuju ke Tugu Tani. Saat itu hati saya merasa lega. Saya telah menemukan insight yang amat dalam. Saya telah menemukan alasan kuat untuk memunculkan sukses yang masih "tertidur" dalam diri saya.

Saya tidak terlalu merisaukan lagi, hasil pertemuan yang akan saya adakan dengan PPM. Saya sudah merasa Nothing To Lose. Ikhlas. Saat itu yang terbersit dalam hati saya hanya satu : "Ibu....aku ingin bersimpuh dikakimu".

Salam

Faif Yusuf

Friday, June 22, 2007

Pengalaman Luar Biasa

Pak Andi Ilham Said Ph.D, saya, dan Pak Erdion Nurrahman

Yang ini bersama Pak Andi dan Pak Ramelan


Hari Kamis kemarin, 21 Juni 2007, saya mendapat undangan dari Bapak Andi Ilham Said Ph.D(biasa dipanggil Pak AIS). Pak AIS adalah Direktur Graduate School of Management PPM. Lembaga Manajemen PPM merupakan lembaga manajemen tertua di Indonesia yang didirikan tahun 1967. Undangan ini bermula dari resensi buku Mindset Sukses yang saya kirim ke PPM. Tujuan saya mengirimkan resensi tersebut, agar dimuat di majalah Manajemen Best Practice terbitan PPM.


Setelah membaca resensi tersebut (sedikit saya revisi dari resensi di blog), Pak AIS mengundang saya untuk membicarakan kemungkinan kerjasama untuk mengadakan seminar buku Mindset Sukses dalam Forum Kajian Manajemen PPM. PPM bahkan bersedia mendatangkan langsung Sang Penulis ke Indonesia dengan segala akomodasinya.

Setelah menyampaikan tawaran PPM ke Jennie via email. Saya mendapatkan balasan yang amat luar biasa. Ini petikan email Jennie kepada saya :
================
Faif Yusuf yang baik,

Pertama2 saya ucapkan selamat atas undangannya. Soal pulkam, studi S3 saya sedang sibuk2nya dan baru akan selesai tahun depan. Jadi saya berikan "kuasa sementara" kepada Faif untuk menjadi "wakil" saya di dalam seminar tersebut. :) Terima kasih pengertiannya.

FEUI hanyalah sebagai penerbit, sedangkan "Mindset Sukses" dan "Success Mindset" merupakan trademark (merek dagang) milik saya. Sudah saya daftarkan secara hukum.

Untuk presentasi tersebut, tolong buatkan Powerpointnya, nanti saya berikan restu setelah membacanya. Saya punya beberapa syarat soal seminar ini:

1. TIDAK BOLEH meminta bayaran dari seminar (pesertanya harus gratis). Ini saya percayakan kepada Faif ya, sebagai tanda persahabatan yang tulus.
2. Peserta dipersilakan membeli buku Mindset Sukses (Email ini saya cc kepada ibunda saya Ibu Wiwi di Jakarta. Beliau bisa bantu soal penyediaan buku.)
3. Harap jelaskan bahwa royalti buku digunakan untuk amal (anak2 terlantar/yatim piatu, organisasi2nya masih terbuka).
4. Harap semua peserta seminar mensubscribe email feed di http://www.jennieforindonesia.com/.
...... ........ .........
...... ....... .........
=============

Berdasarkan mandat dalam email di atas, saya berkunjung ke PPM kemarin. Saya ditemui oleh :
- Ir. Andi Ilham Said, MSOM, Ph.D : Director Graduate School of Management PPM
- Drs. Ramelan, MM : Chief Editor Penerbit PPM
- Erdion Nurrahman : Marketing Manager Penerbit PPM

Saya sampaikan persyaratan seminar yang diajukan Jennie. Dalam hal ini, memang ada perbedaan persepsi antara saya dan PPM. Semula saya kira Forum Kajian Manajemen tersebut bisa gratis.

Ternyata forum tersebut adalah forum yang "mahal". Pembicara dibayar mahal. Peserta juga harus bayar mahal. Untuk pembicara dari luar negeri, PPM bahkan sanggup mendatangkannya dengan menyediakan full akomodasi.

Berhubung Jennie tidak bisa pulang ke Indonesia, dan seminar tersebut ternyata tidak bisa gratis, maka rencana seminar buku Mindset Sukses dalam Forum Kajian Manajemen tersebut tidak jadi terlaksana.

Namun demikian, saya tidak kecewa dengan hal itu. Karena dari pertemuan tersebut ada hal luar biasa yang ingin saya sampaikan :

1. Fenomena Seorang Jennie

Saya menjelaskan kepada Pihak PPM sosok atau profile seorang Jennie S Bev. Visi, Misi, dan sumbangsihnya kepada Indonesia. Berikut bukti nyata berupa dua buah buku motivasi yang telah terbit di Indonesia ( Rahasia Sukses Terbesar dan Mindset Sukses).

Saya juga mempromosikan web site http://jennieforindonesia.com/ yang telah memberikan pencerahan kepada sekian banyak orang, termasuk saya. Saya juga mempresentasikan keunikan buku "mindset sukses" yang membedakan dari buku motivasi sejenis di pasaran, dan buku "Rahasia Sukses Terbesar" yang menjadi best seller di Indonesia.

Setelah mendengar penuturan saya, Pihak PPM akhirnya berminat untuk menerbitkan buku buku Jennie di Indonesia. Pihak PPM bahkan menyatakan terima kasih jika selepas selesai S-3 dan pulang ke Indonesia, Jennie S Bev bersedia mengajar di PPM.

2. Presentasi TDA

Ketika bertukar kartu nama, saya menyerahkan kartu nama Kafana Distro, bukan kartu nama TDB saya. Sayapun menyampaikan sekilas perjalanan bisnis saya dan kenapa saya memilih untuk menjadi entrepreneur sukses.

Saya juga langsung memperkenalkan komunitas TDA selengkap lengkapnya. Mulai dari Visi, Misi, Jaringan Kerja, Budaya Komunikasi, milis dan tokoh pendirinya.


Singkat cerita, Pak AIS dan tim ingin sekali berkenalan dengan Pak Roni, Sang Jenderal TDA. Saya juga sudah merekomendasikan blog http://roniyuzirman.com/ kepada PPM.

Pak AIS selaku Direktur berminat mengundang Pak Roni atau komunitas TDA untuk memberikan kuliah tamu/sharing, baik untuk mahasiswa S1 maupun Pasca Sarjana. Kebetulan di PPM juga ada komunitas entrepreneur.

Bahkan untuk mahasiswa S1 PPM, di pertengahan periode kuliah, mahasiswa akan dibagi dalam dua jalur yang berbeda sesuai minat mahasiswa. Jalur Profesional dan jalur Entrepreneur.

Kurikulum juga disesuaikan dengan jalur tersebut. Untuk jalur entrepreneur, PPM membantu mahasiswa mendirikan usaha, bahkan sampai pendanaannya, dan mahasiswa akan dinyatakan lulus kalau usahanya sudah berjalan.

3. Presentasi Konsep E.D.A.N

Ketika saya menunjukkan email Jennie mengenai mandat yang diberikan kepada saya. Pak AIS melihat ada nama OmPopa dalam cc email tersebut. Diapun menanyakan siapa sosok Om Popa. Saya mencoba menjelaskan "sepak terjang" Pak Sopa dalam usahanya memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia melalui Workshop E.D.A.N dan QA Qommunication yang didirikannya.


Pak AIS dan tim amat tertarik dengan konsep E.D.A.N ini, dan meminta saya untuk menjelaskannya. Bahkan Pak AIS, yang notabene seorang Doktor, tidak segan segan atau malu, menulis dalam notebooknya dan meminta saya untuk mendiktenya singkatan dari E.D.A.N.

Sayapun dengan amat polos dan tanpa beban, mendiktekannya :

E --> Energy
D --> Dignity
A --> Anticipation
N --> Nothing To Loose.

Saya berusaha menjelaskan satu persatu mulai dari Energy sampai Nothing To Loose dan mencoba merangkainya dengan satu pemahaman yang utuh. Saya juga berusaha meyakinkan betapa konsep tersebut amat powerfull untuk mengubah hidup seseorang menjadi lebih sukses.

Penjelasan yang saya berikan tentu amat terbatas, mengingat saya baru punya kesempatan untuk mengikuti workshop E.D.A.N pada hari Sabtu besok, di hotel Sofyan Cikini.

Apa yang saya jelaskan baru lah sebatas pemahaman yang saya dapatkan dari tulisan Pak Sopa dalam blog milis bicara.

Singkat cerita, Pihak PPM menitipkan pesan kepada saya agar menyampaikan kepada Pak Sopa. Bahwa PPM berminat mengundang Pak Sopa dan akan sangat senang jika Pak Sopa bersedia bekerja sama dengan PPM atau mempresentasikan konsep E.D.A.N tersebut di PPM.

Saya juga merekomendasikan milis bicara dan memberikan No. Telp Pak Sopa kepada Pak AIS.

4. Presentasi Supermind

Diskusi yang amat menarik tersebut mengalir dan akhirnya menyinggung soal Super Mind. Saya langsung saja mempresentasikan ketiga buku Pak Wuryanano, yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Saya mencoba menggambarkan betapa dahsyat anugerah yang bernama "Supermind". Fenomena "supermind" yang mampu dijelaskan dengan amat indah oleh Pak Nano, saya gabungkan dengan film the secret yang fenomenal.


Ternyata Pak AIS, Pak Ramelan, dan Pak Dion, belum pernah nonton the secret. Mereka baru tahu bukunya sudah ada di Gramedia. Namun mereka juga belum membacanya. Berhubung saya sedang menginternalisasi apa yang saya baca dari Quantum Ihklas, saya sampaikan juga sekilas tentang karya Erbe Sentanu yang mengupas Teknologi Aktivasi Hati tersebut. Ternyata Pak Dion dari PPM, sudah membelinya, sehingga diskusi terus berlanjut dengan asyiknya.

Mengenai Supermind sendiri pihak PPM sangat tertarik untuk mengupasnya di PPM. Pak AIS meminta saya untuk menyampaikan kepada Pak Nano, perihal keinginan PPM untuk bekerja sama. Beliau akan sangat senang jika bisa bertemu Pak Nano dan membicarakan kemungkinan kerja sama di PPM. Bisa dalam bentuk kuliah umum, pelatihan atau yang lainnya.

Saya sendiri amat heran dengan keberanian saya untuk menyampaikan hal hal di atas. Sungguh saya bukanlah orang yang biasa berbicara dengan seorang Doktor, Apalagi seorang Direktur dari sebuah Lembaga Manajemen Tertua dan Terbaik di Indonesia.

Setelah saya renungkan, secara tidak sadar, saya telah mempraktikan apa yang saya baca dalam tulisan Pak Sopa mengenai konsep E.D.A.N. Saya berusaha berkomunikasi dengan penuh energi, dan disertai dengan kepribadian yang dignified.

Antisipasi juga telah saya lakukan dengan melakukan persiapan malam sebelumnya. Persiapan yang saya lakukan diantaranya print out email dari Jennie, buku Mindset Sukses saya baca lagi dan lebih saya resapi.

Point point diskusi juga sudah saya siapkan. Setelah semua yang harus saya lakukan sudah saya tunaikan, maka langkah berikutnya adalah Nothing To Loose. Let it go, let it God. Ikhlas. Saya siap menerima apapun yang akan terjadi, dengan kebesaran jiwa dan hati saya. Toh...saya sudah berusaha seoptimal mungkin.

Energi yang saya temukan dalam konsep E.D.A.N, dikonfirmasi oleh Pak Nano dalam bukunya yang sedang saya baca, dengan istilah "antusiasme".

Belajar tentang ketulusan dari seorang Jennie S. Bev, apa yang saya lakukan kemarin adalah bentuk penghormatan dan penghargaan yang tulus atas persahabatan yang selama ini terjalin dengan para sahabat saya di atas. Persahaban ini sungguh terasa indah bagi saya.

Saya juga mengucapkan terima kasih sedalam dalamnya kepada Lembaga Managemen PPM, yang menyambut saya dengan hangat. Saya belajar bagaimana tentang kerendahatian seorang Direktur PPM. Pak AIS dan kedua rekan PPM lainnya, bahkan mendampingi saya turun dengan lift, dan mengantar sampai di depan resepsionis.

Mereka juga berjanji akan mengundang saya, jika ada acara training atau lainnya di PPM. Jika saya berminat untuk mengambil Program S2 di PPM, mereka juga berjanji akan memberikan kemudahan.

Hm.....saya sungguh terkesan dengan PPM.

Buat Pak Roni, Pak Sopa, dan Pak Nano, alamat email dan No. HP Pak AIS (Andi Ilham Said Ph.D ), direktur PPM, akan saya kirim via japri.


O..ya, selepas sharing di PPM sekitar satu setengah jam, saya melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Nasinonal, terus ke Gramedia Matraman, Sholat Maghrib di Masjid Sunda Kelapa, dan diakhiri dengan sharing seluk beluk bisnis Jeans dengan 2 rekan TDA di Kebon Jeruk Jakarta Barat. Cerita mengenai aktivitas lanjutan diatas akan saya sharing secara terpisah.

Salam


Faif Yusuf

NB. Bagi rekan TDA yang di Jakarta, hari ini sehabis sholat maghrib sampai jam 20.30 ada Kupas Buku " Ketika Cinta Bertasbih" di Masjid Sunda Kelapa. Sahabat saya Habiburrahman El Shirozi, yang menulis novel tersebut, akan sharing mengenai novel entrepreneurship tersebut.

Wednesday, June 20, 2007

Kafana Distro Update

"The Quantum Team" Kafana Distro


Hari ini Kafana Distro genap berusia tiga bulan.
Memang terhitung masih "jabang bayi". Saya berharap dengan perhatian yang serius, Kafana bisa berkembang dan terus tumbuh semakin dewasa. Sanggup mengarungi berbagai gelombang kehidupan. Memberikan manfaat bagi para stakeholder. Usaha yang bermula dari teras rumah ini, alhamdulillah menunjukkan perkembangan yang positif. Hal ini bisa dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut :

1. Produk

Item produk yang dijual kafana semakin lengkap. Saat launching, produk dan penampilannya amat sederhana. Masih banyak space toko yang kosong. Ahamdulillah, semua space kini sudah terisi dengan variasi produk yang semakin beragam. Mulai dari Jilbab berbagai merk, blus, stelan, kaos muslimah, busana muslim anak, koko, mukena, sarung, peci, aneka accessoris, baju tidur, pakaian dalam wanita, dan lain lain.

Koleksi tersebut akan semakin bertambah untuk mewujudkan visi Kafana sebagai One Stop Shopping berbagai Khazanah Muslim. Masih banyak item / kategori produk yang mesti segera dilengkapi seiring dengan meningkatnya awareness konsumen dan meningkatnya modal berjalan.

2. Omset

Alhamdulillah, omset penjualan menunjukkan trend kenaikan dari hari ke hari. Saat ini, omset di atas 1 juta sehari sudah biasa, di atas 2 juta sehari, masih kadang kadang, jadi sudah nggak kaget lagi. Fakta lainnya, selama tiga bulan ini, dalam sehari tidak pernah bolong, alias tidak pernah tidak ada penjualan sama sekali.

Sungguh ini melebihi ekspektasi saya ketika nekad memberanikan diri untuk take action. Saya juga sudah siap jika "mainan" baru saya ini kembali berujung dengan "ongkos belajar" seperti bisnis saya sebelumnya.

3. Pelanggan

Jumlah pelanggan semakin banyak dan masih akan terus bertambah. Pelanggan yang pernah datang, rata rata datang lagi untuk melakukan repeat buying. Pelanggan baru juga masih terus berdatangan seiring dengan "ganas" nya efek pemasaran Word of Mouth ( dari mulut ke mulut).
Jangkauan pelanggan juga semakin luas, tidak hanya perumahan di dekat kafana, tetapi juga perumahan yang cukup jauh dari kafana. Berdasarkan obrolan ringan di toko, pelanggan datang dari berbagai perumahan, di antaranya : Taman Tridaya Indah 1, Taman Tridaya Indah 2, Taman Tridaya Indah 3, Griya Asri 1, Griya Asri 2, Perum Kopperindag, Puri Cendana, Trias Estate, Kompas Indah, Permata Regensi, Tridaya 1, Tridaya 2, Tridaya 3, Tridaya 4. dan masih ada lagi yang lainnya. Maklumlah, Tambun merupakan salah satu gudang perumahan di Bekasi.

4. Reseller

Semakin banyaknya reseller yang mau bergabung, saya jadikan salah satu indikator bahwa produk kafana bisa diterima dengan baik oleh konsumen. Terbukti para reseller bisa menjualnya kembali dan melakukan repeat buying ke kafana. Database reseller ini terus saya maintain.

Komunikasi dengan para reseller juga aktif dilakukan oleh istri saya.Reseller bisa menjual dengan harga eceran sama dengan di Kafana, karena mereka mendapatkan diskon khusus. Mereka juga bisa menaikkan harga di atas harga eceran Kafana, mengingat mayoritas reseller menjual dengan sistem pembayaran tempo atau kredit.


Selain indikator di atas , ada beberapa benefit yang saya dapat, yang nilainya justru lebih tinggi dari sekedar nilai finansial, diantaranya :

1. Sahabat

Saya merasakan setelah membuka usaha, sahabat saya semakin banyak. Ada yang berkomunikasi lewat email, yahoo messenger, telpon, dan sms. Kadang juga bertemu dalam forum tertentu. Ada juga yang datang langsung ke toko untuk silaturohmi dan tukar wawasan.

Bagi saya persahabatan ini luar biasa nilainya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa berbagi pengalaman. Terutama bagi mereka yang baru mulai usaha seperti saya.

Istri saya yang memegang operasional harian juga merasakan manfaat yang sama. Kenalannya bertambah banyak. Kalau dulu hanya ibu ibu satu RT, kini sahabatnya bertambah. Mulai dari Ibu Guru, Pekerja Pabrik, Orang Kantoran, Perawat, Ibu Rumah Tangga yang mencoba berbisnis dsb. Para pelanggan tersebut tentu berasal dari berbagai perumahan.

2. Informasi dan Wawasan

Banyak informasi dan wawasan yang saya dapat setelah buka usaha. Kadang asalnya juga dari hal hal yang tidak terduga. Semuanya seperti mengalir dan ditunjukkan begitu saja.

Informasi Bazar di sebuah di sebuah sekolah terpadu misalnya, tidak hanya melahirkan hubungan bisnis semata. Melainkan juga melahirkan hubungan pertemanan yang tulus dengan para guru di lembaga pendidikan tersebut.

Interaksi dengan berbagai kalangan tersebut banyak berpengaruh positif kepada istri saya.
Dari cerita dan sharing setiap hari, saya melihat wawasan istri saya jauh lebih luas dari sebelumnya.

Kebetulan juga, istri saya pernah menyusun buku pelajaran agama, untuk tingkat SD (dari kelas 1 s/d 6). Persahabatan dengan para guru yang menjadi pelanggan tersebut sering memunculkan diskusi menarik yang merefresh pengetahuan istri saya. Walaupun buku tersebut sudah diterbitkan tiga tahun yang lalu, alhamdulillah, beberapa hari yang lalu masih ada royalty yang ditransfer, walaupun nilainya nggak seberapa.

3. Optimalisasi Waktu

Sebelum "memainkan” Kafana Distro, saya lebih banyak disibukkan oleh tugas kantor dan Koperasi Karyawan yang saya urus. Amanah sebagai pengurus kopkar, justru lebih banyak menyita perhatian saya. Setiap bulan saya harus melakukan pembayaran untuk angsuran KPR BTN karyawan secara kolektif, Angsuran kredit motor karyawan ke FIF, dan angsuran KTA karyawan ke Bank DKI. Bayar Pajak PPh Ps. 25 untuk Kopkar dan mengirimkannya ke Kantor Pajak, plus berbagai kesibukan khas bendahara.

Sejak dua bulan yang lalu, saya juga tidak bisa menolak amanah sebagai pengurus RW. Berbagai urusan kemasyarakatan menjadi tambahan kesibukan saya. Tugas saya sebagai "tukang bayar" bertambah lagi. Tiap bulan saya mesti bayar iuran sampah untuk lingkungan RW (satu blok) ke Pihak DKP Bekasi.

Dengan berbagai tugas tersebut, plus "mainan" baru kafana, saya harus pandai mengatur waktu dan tenaga agar semua tugas tersebut bisa ditunaikan dengan baik.

Khusus untuk pengelolaan Kafana, pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar besarnya kepada istri saya, Emi Fatmawati. Istri saya inilah yang paling "bertanggung jawab" atas kemajuan Kafana Distro sampai saat ini. Saya saya masih ingat benar, saat mendampingi istri saya, ketika dia harus berjuang mempertahankan thesis S-2 nya di hadapan Dewan Penguji. Waktu itu kami baru seminggu menikah. Thesis istri saya mengupas tentang ayat ayat Jilbab dalam Alquran, dari sudut pandang sosial budaya Islam. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Musa 'Ashary, istri saya berhasil mempertahankan thesis tersebut. Saya sendiri sangat kagum dengan profile Prof Dr. Musa 'Ashary ini. Selain sebagai akademisi, beliau juga sukses sebagai pengusaha.

Saya tidak pernah menduga, kalau istri saya sekarang kembali "bergelut" dengan jilbab dalam mengembangkan bisnis kami.

Apakah ini sebuah kebetulan ?

Salam

Faif Yusuf

Tuesday, June 19, 2007

Insight of The Day

"I write for the same reason I breathe; because if I didn't, I would die."

~ Isaac Asimov

Monday, June 18, 2007

Gebrakan TDA Resources : Thanks Buat Pak Rosihan

Sharing manajemen ritel di markas TDA Resources
Suasana sharing sangat akrab dan penuh kekeluargaan

Photo bersama selepas sharing, agak redup ya...
maklum yang ambil gambar udah ngantuk juga...nyaris midnight

Jumat malam kemarin, 15 Juni 2007, saya diundang Pak Rosihan dalam acara sharing Manajemen Toko di kantornya di Duren Tiga Jakarta Selatan. Acara ini memang terkesan mendadak. Saya di telpon Pak Rosihan kira kira jam tiga sore, sementara acara dilaksanakan pada jam tujuh malam. Walaupun saya tidak punya persiapan sama sekali, acara yang saya yakin pasti akan amat menarik tersebut membuat saya langsung mengambil keputusan untuk hadir. Seijin Pak Rosihan, saya kontak Pak Herizal, member TDA yang mengelola Toko Polly Jeans di Tanah Abang.

Acara dimulai dengan makan nasi goreng bersama (hm..nikmat sekali), bertempat di ruang meeting Lantai 2. Sebagai informasi seluruh ruangan di Lt.2 ini dipakai sebagai kantor perusahaan milik Pak Fauzi Rachmanto. Sedangkan Pak Rosihan memakai Lt.1 dan Lt. 3. Terima kasih buat Pak Fauzi Rachmanto atas pinjaman ruangannya.

Hadir dalam sharing tersebut : Pak Rosihan dan Mbak Ines ( Ridho Jaya & Saqina Distro Muslim), Mbak Vita dan Mas Ibnu ( Tim Pak Rosihan), Faif Yusuf ( Kafana Distro), Pak Eko Jun ( Mom's Choice), Mbak Doris dan Mas Yasir ( Toko Shakira), Pak Herizal ( Toko Polly Jeans), Mas Teguh dan Mbak Tina ( Rumah Muslimah).

Semua agenda tampak sudah dipersiapkan dengan baik. Laptop diatas meja meeting, lengkap dengan projector buat presentasi. Presentasi dan sharing dimulai kira kira jam setengah delapan malam. Pak Rosihan menghadirkan seorang Store Manajer sebuah Jaringan Toko Busana yang amat terkenal. Beliau sharing mengenai "technical know how" pengelolaan toko, berdasarkan 10 tahun pengalaman beliau di jaringan toko tersebut.

Acara sharing dan presentasi yang dipandu langsung oleh Pak Rosihan tersebut sangat menarik. Semuanya runtut dan terarah dari satu tema ke tema berikutnya. Presentasi juga berjalan dengan amat cair, karena seluruh peserta yang hadir bisa dengan bebas menanyakan langsung hal hal yang berkaitan dengan tema yang sedang dipresentasikan, termasuk berbagai kasus yang sering muncul di lapangan. Materi yang dibahas mencakup : Manajemen Persediaan, Customer Service, Manajemen SDM, Manajemen Keuangan, Manajemen Penjualan, plus berbagai strategi dan tips praktis yang bisa langsung diterapkan di lapangan. Yang membuat diskusi tidak membosankan, bahwasanya apa yang disampaikan nara sumber merupakan aplikasi / best practice yang dilakukan Jaringan Toko Busana yang di kelolanya, jadi bukan hanya teori saja.

Diskusi semakin seru dan menarik tatkala sharing berbagai kasus unik yang muncul seputar solusi mengatasi stok yang lama tidak laku, mengantisipasi pencurian barang, merekrut pramuniaga yang kompeten dan kasus praktis lainnya.

Setelah sharing dari Store Manager tersebut usai, Pak Rosihan memberikan kesempatan sharing kepada peserta yang hadir. Tentu saja seputar perkembangan bisnis masing masing. Saya sharing seputar strategi saya membangun image Kafana Distro dan awareness konsumen. Plus beberapa fakta menarik yang saya dapatkan setelah action, termasuk kesalahan saya dalam mengusung suatu merek. Pak Rosihan selaku TDA Resources juga langsung memberikan saran saran yang amat jitu. Diantaranya bagaimana strategi memanfaatkan momentum peak season yang sudah dekat. Saran dari Pak Rosihan terasa sangat membumi. Hal ini tidak lepas dari pengalaman beliau yang sudah lama malang melintang di dunia bisnis retail. Saya dan teman teman TDA yang lain sungguh merasa amat beruntung bisa berguru langsung kepada Pak Rosihan.

Sayang acara yang amat menarik tersebut harus diakhiri karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 malam. Sebetulnya saya masih ingin berbagi dengan rekan yang lain. Mas Teguh dan Mbak Tina juga masih stand by untuk melakukan presentasi produk Rumah Muslimah. Namun saya harus pamit duluan, sekaliyan nebeng Pak Rosihan yang akan mengantarkan nara sumber yang kebetulan tinggal di Bekasi. Saya turun di dekat pintu tol Pondok Gede Timur, nyambung lagi naik transitas sampai terminal Bekasi, dilanjutkan naik elf sampai Kompas Tambun. Dari situ tinggal naik ojek saja. Saya sampai rumah kira kira hampir jam satu malam eh...pagi. Namun saya belum bisa memejamkan mata juga. Pesan dan saran Pak Rosihan terlalu berkesan dan menancap di fikiran saya. Akhirnya saya ambil buku Quantum Ihklas karya Erbe Sentanu. Saya "kunyah" sedikit demi sedikit kata demi kata yang tertulis didalamnya. Terus terang saya tidak ingin tergesa gesa melewatkan kenikmatan dalam mencerna buku tersebut. Saya pun akhirnya terlelap diselimuti ide ide mencerahkan dalam buku Quantum Ikhlas tersebut.

Salam

Faif Yusuf

Thursday, June 14, 2007

Insight Of The Day

"If Better is Possible

Good is not Enough"


Nb. Saya mendapatkan kalimat di atas saat mengambil buku sebagai hadiah dalam talk show bedah buku di Smart FM Jakarta. Tulisan itu terpampang di dinding dekat resepsionis.

Mejeng di Majalah Wirausaha & Keuangan

Minggu kemarin saya menerima kiriman majalah Wirausaha & Keuangan. Gratis. Kisah "Ongkos Belajar" di blog ini diangkat sebagai kisah inspirational dalam majalah tersebut. Tujuannya supaya lebih banyak orang yang terinspirasi dan bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya. Terima kasih kepada Pak Isdiyanto atas dimuatnya tulisan saya. Thanks juga untuk iklan gratis yang ditawarkan kepada Kafana Distro di majalah Wirausaha & Keuangan.
Bagi yang penasaran penampilan saya di Majalah WK, ini dia......

Liputan ini ada di halaman 24 Majalah WK Edisi Juni 2007


Kalau ini di halaman selanjutnya, photonya menarik ya.....

Semoga terinspirasi !

Salam

Faif Yusuf

Wednesday, June 13, 2007

Wow..saya menang review ebook Jennie


Pagi ini saya menerima kabar dari seorang sahabat di Pennsylvania AS melalui blog saya, bahwa saya dinobatkan sebagai salah satu pemenang review e-book Mindset Sukses karya Jennie S Bev. Hm..saya sempat kaget karena terus terang saya belum terbiasa menulis review sebuah buku. Seingat saya ini adalah review pertama yang pernah saya tulis.

Review tersebut saya tulis sebagai feedback dan apresiasi atas inspirasi yang saya dapatkan dari ebook tersebut, selain untuk membina hubungan pertemanan yang tulus yang sudah terjalin selama ini. Review di blog saya tersebut, juga saya harapkan bisa memberikan insight bagi pembaca blog saya, yang belum membaca ebook tersebut.

Harapan saya setelah membaca review, para pembaca blog saya akan semakin penasaran dan berusaha mendownloadnya . Saya yakin pembaca akan mendapatkan manfaat seperti yang saya rasakan. Sayangnya saat ini download gratis ebook tersebut sudah ditutup. Namun bagi teman teman yang belum mambacanya tidak usah kecewa. Versi cetak ebook tersebut kini sudah terbit dan beredar di Indonesia.

Saya sih tinggal menunggu aja, karena sebentar lagi saya akan mendapatkannya secara gratis dari Jennie plus special gift lainnya.

Terima kasih Jennie atas inspirasi selama ini.

Bagi yang belum membaca review nya, silahkan dilihat dari review pemenang di bawah

Salam
Faif Yusuf

Note : Posting pengumuman di bawah ini saya copy dari http://www.jennieforindonesia.com/

Kabar gembira, para peserta kontes resensi e-book Mindset Sukses sudah ada pemenangnya. Sekarang, kriteria penjuriannya bagaimana, sehingga kok mereka ini dinobatkan sebagai para pemenang?

1. Resensinya berisi hal-hal positif dan hal-hal negatif, jadi tidak berat sebelah. (Saya senang menerima kritikan membangun, sehingga bisa lebih maju lagi.)

2. Struktur resensinya jelas dan sesuai dengan prinsip-prinsip penulisan artikel: introduksi, tubuh, dan kesimpulan.

3. Mengandung unsur-unsur kreatif, misalnya perbandingan dengan buku-buku dan prinsip-prinsip sukses lainnya, serta menggunakan contoh-contoh.

4. Menggunakan tata bahasa yang baik (baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris).

5. Human interest and insightful, alias bisa menimbulkan pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan istimewa dari membaca resensi tersebut.

Para pemenang akan mendapatkan hadiah-hadiah dari saya:
1. Satu buku versi cetak Mindset Sukses
2. Satu selipan buku (bookmark) Rahasia Sukses Terbesar
3. Satu foto yang disertai tanda tangan saya.

(Buku dan selipan buku akan dikirim dari Jakarta, sedangkan foto dan tanda tangan akan dikirim dari San Francisco.)

Selain itu, para pemenang juga akan mendapatkan daftar media cetak di Indonesia yang bisa dikirimi resensi buku tersebut setelah mengganti beberapa informasi e-book menjadi informasi buku versi cetaknya. (Misalnya, penerbitnya sekarang LPFEUI dan jumlah halamannya sekarang 180an bukannya 87 lagi. Akan saya konfirmasikan nanti dalam e-mail.) Jika resensi tersebut diterima dan diterbitkan di salah satu media di dalam list, maka akan mendapatkan honorarium tersendiri lagi. Jadi, ada dobel hadiah.

Nah, sekarang siapakah dari para peresensi yang berpredikat pemenang? Hasil keputusan juri sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, baik dipaksa maupun dirayu.

1. Anang, yb (JejakGeografer)Buku Layak Baca: Mindset Sukses Inti Segala Kebaikan
2. Linda (Bumi Indonesia)Review e-Book Mindset Sukses: Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial
3. Eddy S. Zhang (Simpel Blog)Review Buku Jennie S. Bev, Mindset Sukses
4. Nistains Odop (Karya dan Pemikiran Nistains Odop)Sukses Sejati Berawal dari Pola Pikir
5. Ami Rayata (Kafe Hijau)Book Review: Mindset Sukses, by Jennie S. Bev
6. Dodo (DodoNET)Review eBook Mindset Sukses Jennie S. Bev
7. Faif Yusuf (The Secret of Getting Ahead is Getting Started)Review eBook: Mindset Sukses
8. Hendra Kusnandar (Obrolan Para Cowok)Mindset Sukses: Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial
9. Julia (Bunda WAH)Mindset Sukses Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial
10. Fida Abbott (Kabar Indonesia)Resensi Buku: Mindset Sukses Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial

Para pemenang, selamat! Congratulations! Kudos! Saya sangat bangga dan berbahagia dengan kemampuan Anda sekalian dalam meresensi buku. Saya tunggu kontak alamat Anda sekalian di kontak form ini, sehingga bisa segera saya e-mailkan daftar media yang bisa dikirimi resensi bukunya serta hadiah-hadiah lainnya bisa juga segera dikirim via pos dari Jakarta dan San Francisco. Kirimkan alamat pos dan nama lengkap Anda supaya kantor pos tidak bingung mencari-cari Anda di pelosok dunia.

Monday, June 11, 2007

Sepenggal Pagi

Angkot, pengendara motor, pejalan kaki, mobil pribadi,
mobil container, semuanya tumplek blek....ck..ck..ck..

Suasana tadi pagi yang "absurd" di bilangan Setu Bekasi
Nggak ada yang mau ngalah..
Seperti biasa saya pagi ini berangkat ke kantor dengan motor Supra X kesayangan saya. Sebetulnya mata ini masih ngantuk. Maklum, semalam saya silaturohmi ke rumah Pak Hadi di Harapan baru, dan baru nyampe rumah kira kira hampir jam 11-an. Ternyata Ilham anak saya belum tidur. Dia masih menunggu saya. Begitu saya datang dia langsung mengajak bermain. Ide nya ada aja. Saya pun berusaha menemaninya dengan segala sisa tenaga saya. Syukurlah dia amat menikmatinya. Dalam hati saya berjanji untuk tidak menemani bermain Ilham hanya dengan sisa energi saya. Saya berusaha "all out" melayaninya. Kemarin acara saya memang sangat padat. Berangkat pagi pagi menuju TIM (Taman Ismail Marzuki) di Cikini. Selepas itu kira kira jam setengah dua siang, belanja Jilbab Permata ke ITC Cempaka Mas. Baru kemudian di lanjutkan dengan silaturohmi ke rumah Pak Hadi, Raja Selimut. Saya dirumah pak Hadi dari jam setengah enam sore sampai hampir jam sepuluh malam.
Tadi pagi saya menempuh perjalanan melewati rute yang biasanya saya lalui. Sebelum sampe pertigaan Kalimalang arah Setu, kondisi macet sekali. Kemacetan di jalan sebetulnya sudah biasa saya alami. Tapi tadi pagi benar benar berbeda dari biasanya. Benar benar parah. Saya berusaha menyelinap di balik mobil yang berderetan amat panjang. Yang paling ngeri kalau pas berada disamping container. Mana container tinggi sekali,ih.... ngeri.
Setelah melalui deretan mobil yang amat panjang, akhirnya saya sampai pertigaan Kalimalang ke arah Setu Bekasi. Jalur ini sebenarnya adalah jalan pintas saya menuju kantor. Melewati perkampungan. Walaupun jalan nya tidak terlalu bagus, tapi relatif lancar dibandingkan kalau lewat jalur umum. Ternyata disana ada sebuah truk Fuso yang bannya pecah. Huh....kok ya pas di dekat pertigaan yang amat ramai. Otomatis separuh badan jalan tidak bisa dilewati.
Motor saya nyaris tidak bisa bergerak. Kemana mana mentok. Daripada nyalahin siapa siapa, saya keluarkan saja kamera dari dalam tas saya. Jepret sana jepret sini dari atas motor. Siapa tahu ada ide untuk di share seputar kejadian ini. Idenya sih belum ada, cuma saya yakin nanti ada ide yang bisa di kembangkan jadi sebuah tulisan yang inspiratif dari kemacetan parah yang saya alami ini.
Saya lihat dari kejauhan, para pekerja berjalan kaki secara berombongan. Mereka bersaing dengan ratusan atau mungkin bahkan ribuan motor yang mengaum ngaum memekakan telinga. Debu bercampur dengan asap knalpot seakan makin melengkapi "keindahan" suasana. Saya pun berusaha berempati pada mereka. Teman teman saya yang sekarang berusaha menggapai segenggam asa. Mereka meninggalkan kampung masing-masing untuk menggapai masa depan. Mereka ingin bebas dari lilitan kemiskinan yang menjeratnya. Namun sayangnya, yang mereka peroleh disini juga kehidupan yang jauh dari "sejahtera". Sebagian besar mereka mungkin bisa bergaya dengan telepon genggam. Namun, mereka tetap harus terus bergelut dengan hidup yang sangat keras, mulai dari di tempat tinggal, di jalan, hingga tempat kerja. Mereka bahkan tak akan pernah lagi mendapatkan tempat lega yang membuatnya dapat menghirup udara segar. Hidup seperti tidak ada pilihan. Bekerja hanyalah karena tuntutan kebutuhan yang semakin menghimpit. Bukan sarana untuk mengaktualisasikan diri dan tempat berekspresi yang terbaik. Tekanan pekerjaan dan ketakutan jika terlambat masuk kerja, membuat mereka kadang kehilangan nurani. Sebetulnya suasana kemacetan bisa segera diatasi seandainya semua mau menahan diri dan patuh pada petugas DLLAJ yang mengatur saat itu. Namun semua maunya menang sendiri. Semua ingin menyelamatkan diri. Terlambat berarti siap untuk di PHK, pikir mereka. Apalagi kondisi saat ini, dimana banyak perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal. Saya berfikir, dalam keadaan seperti itu, bukan trailer melainkan kualitas hiduplah yang akan menggilas masa depan mereka.
Saya yakin, fenomena pagi ini juga terjadi di banyak tempat di negeri ini. Selain Cibitung, Pulogadung, Tangerang, Cikarang, Cileungsi, Bandung, Kudus, Solo, Sidoarjo, Semarang, dan di kantung kantung industri lainnya. Pemandangan seperti itu akan sering kita dapatkan.
Saya merasa bersyukur, dengan pendidikan dan posisi saya sekarang, saya mungkin relatih lebih beruntung di banding mereka. Saya masih punya kesempatan mengembangkan diri, membangun bisnis, dan menata masa depan.
Bagaimana dengan nasib kawan kawan saya ini, yang hanya menjadi "sekrup" dari sebuah industri global.
Salam
Faif Yusuf
NB. Tulisan ini terinspirasi kemacetan parah yang saya alami sehingga saya terlambat masuk kerja tadi pagi.





Berguru Kepada Raja Selimut

Sampai keringetan nih, makin pusing saking banyaknya model
Photo bersama selepas "ngangsu kawruh" kepada Raja Selimut
Setiap kali bertemu dengan Bapak yang satu ini, semangat saya langsung membuncah. Padahal belum ngobrol apa apa. Baru ketemu doang. Sosok Pak Hadi di mata saya memang luar biasa. Gaya bahasanya yang blak blakan, malah sedikit selengekan, membuat saya tidak canggung untuk konsultasi ini dan itu. Tidak salah apabila Pak Hadi dinobatkan sebagai provokator TDA dan diamanahi untuk memegang unit baru, TDA Resources.
Tadi malam adalah silaturohmi saya yang kesekian kalinya di rumah Pak Hadi. Saya datang bersama Pak Herizal yang berniat untuk bergabung dalam bisnis selimut. Seperti dugaan dan harapan saya, selalu ada insight baru yang saya dapatkan. Solusi yang ditawarkan atas pertanyaan saya juga to the point. Des...des...des. Muantap sekali. Saya masih ingat ketika akan membuka kafana distro. Pak Hadi adalah salah satu penyemangat dan konsultan saya. Kafana Distro yang saya buka adalah hasil ATM dari apa yang telah dilakukan Pak Hadi di Al Mashyur Distro Wonosobo. Tidak heran apabila saya menanyakan sesuatu sehubungan strategi bisnis dan sebagainya maka saya merasa selalu mendapatkan jawaban yang pas. Walaupun tidak semua strategi dan saran Pak Hadi saya jalankan. Saya terus terang juga punya konsep dan strategi tersendiri yang saya pikir lebih sesuai untuk Kafana Distro. Namun saran dari Pak Hadi saya rasa amat bermanfaat dan ikut berpengaruh terhadap proses analisa saya dalam mengambil keputusan atas apa saja yang harus saya lakukan terhadap Kafana Distro.
Hm....sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih atas bimbingan Pak Hadi selama ini.
Salam
Faif Yusuf
Murid Hadi Kuntoro



Silaturohmi ke Markas Poety

Bersama Ilham di markas Poety



Semenjak bergabung dengan komunitas TDA. Saya mempunyai banyak kebiasaan baru. Tentunya kebiasaan yang positif. Diantaranya ngeblog, menulis, sharing, dan silaturohmi. Tentu saja semua ini saya lakukan dengan tulus untuk terus memperbaiki diri saya. Silaturohmi yang saya jalankan juga saya landasi dengan niat yang tulus untuk menyambung tali persaudaraan. Membina hubungan pertemanan yang saling mendukung dan membantu. Kalaupun dari silaturohmi tersebut ada transaksi bisnis yang saya lakukan, itu sifatnya hanya efek saja.

Sabtu kemarin saya silaturohmi ke markas Poety, milik Pak Afrizal Syahri. Sampai disana kebetulan istrinya baru saja melahirkan Putra ke-4. Hm..sayapun ikut berbahagia. Selepas mengucapkan selamat kepada Pak Afrizal dan ngobrol sebentar, saya dan istri meneruskan memilih produk poety yang akan saya jual di kafana distro. Sedangkan Pak Afrizal minta ijin untuk mengurus berbagai hal sehubungan dengan kelahiran putranya.


Selamat buat Pak Afrizal, semoga putra yang baru lahir kelak menjadi anak yang sholeh.

Amin

Salam

Faif Yusuf

Insight Of The Day

Risiko terbesar adalah tidak mengambil risiko sama sekali.

Leo Buscaglia.

Friday, June 8, 2007

Antara Tambun-Kota

Suasana di kereta ekonomi Tambun-Kota yang penuh sesak
Rabu kemarin cuaca cukup cerah. Saya keluar rumah dengan naik motor jam setengah tujuh pagi. Tujuan saya adalah Stasiun Tambun. Sesuai jadwal yang saya ketahui, kereta ekonomi dari Tambun ke Kota ada tiga kali keberangkatan. Jam enam pagi, setengah tujuh pagi, dan jam tujuh pagi. Terus terang saya memang belum pernah memakai jasa kereta api ekonomi dari Tambun ke Kota. kalau dari arah sebaliknya sih pernah. Itupun pada hari libur, bukan hari kerja. Kalau ada keperluan ke Kota, saya biasanya naik bis umum.
Sebenarnya ada kereta Bekasi ekspress tujuan Kota, cuma berangkatnya dari Stasiun Bekasi, terlalu jauh dari rumah saya. Kalau Stasiun Tambun, jaraknya sekitar 2 km dari rumah saya. Alhamdullillah saya sampai Stasiun Tambun sebelum jam tujuh, masih ada waktu untuk bersantai sejenak. Saya gunakan kesempatan itu untuk mengamati kondisi sekitar. Tampak calon penumpang berdiri di pinggir lintasan. Ada juga yang asyik mengerumuni penjual koran yang menggelar dagangannya. Banyak juga dari mereka yang saya lihat membeli koran. Saya perhatikan mayoritas yang mereka beli adalah warta kota, yang penuh dengan berita kriminalitas, gosip, dan hal yang tidak mendidik lainnya. Saat itu saya berpikir bagaimana nasib bangsa ini jika rakyatnya setiap hari dijejali dengan berita sampah seperti itu. Bagaimana pendidikan anak anak jika orang tuanya merasa nikmat ketika mengunyah berita yang menurut saya lebih mengotori pikiran tersebut. Wahai media dimanakah tanggung jawabmu, pikir saya.
Jam tujuh sepuluh menit, kereta yang saya tunggu datang dari arah Cikarang. Kereta tersebut memang berangkat dari Cikarang. Setelah berhenti para calon penumpang segera berebut naik. saya termasuk salah satunya. Semuanya ingin cepet cepetan, nggak peduli kanan kiri, yang penting naik lebih dulu dan mencari tempat duduk.

Ternyata setelah di dalam, kereta sudah penuh sehingga kebanyakan tidak mendapatkan tempat duduk lagi. Sayapun mencari tempat berdiri yang nyaman untuk bisa menikmati perjalanan. Hmm...ini adalah pengalaman kehidupan yang berharga bagi saya. Banyak yang bisa saya ambil hikmah dari pengamatan saya selama di kereta.
Sebetulnya saya sudah sering naik kereta ekonomi. Cuma selama ini saya hanya menyimpan berbagai fenomena yang saya lihat untuk pelajaran bagi saya sendiri. Sekarang saya berpikir, kalau apa yang saya pelajari dari kehidupan bisa bermanfaat bagi banyak orang, kenapa tidak saya share aja pengalaman berharga tersebut. Dengan begitu saya sudah berbagi kebaikan dengan banyak orang.
Penumpang semakin penuh ketika sampai di Stasiun Bekasi. Banyak sekali penumpang yang naik dari sini. Apalagi ketika sampai Stasiun Kranji. Penumpang makin dempet dempetan. Di tengah tengah penumpang yang berjejal tersebut, saya lihat seorang ibu yang memakai kerudung, usianya kira kira 50 tahun, dengan gigih berjualan rokok, tissue, perment dll dan berjalan di sela sela penumpang. Dagangan dia taruh dalam sebuah box kayu yang di pondong di depan dadanya. Setahu saya, yang biasa berjualan seperti itu adalah laki laki. Ternyata disini menjumpai seorang ibu yang dengan gigih menjalani pekerjaan tersebut. Dalam pikiran saya terbayang, mungkin saat ini anaknya sedang belajar di sekolah.Sehingga si ibu harus berjuang untuk membiayai sekolah anaknya. Atau mungkin justru sebaliknya anaknya tidak bisa sekolah karena hasil berjualan tersebut ternyata hanya cukup untuk makan saja. Ach..saya tidak tahu pasti.
Tidak lama kemudian saya jumpai seorang penjual jeruk yang lewat menawarkan dagangan. Dengan semangat dia mondar mandir sambil terus menawarkan dagangannya. Sudah beberapa kali saya lihat dia lewat di depan saya. Walaupun belum ada juga yang membeli. Namun nampaknya dia sudah hafal karakter penumpang di kereta. Kalau sekarang tidak minat, belum tentu mereka tidak minat terus. Benar dugaan saya. Tiba tiba seorang ibu yang berada di dekat saya memberi isyarat kepadanya untuk membeli. Dengan sigap penjual jeruk tersebut melayani si ibu. "Silahkan pilih Bu, luarnya aja Yang P3 tapi dalamnya Golkar", katanya meyakinkan. Saya sempat berpikir, luarnya P3 dalamnya golkar. Apa maksudnya. Oh..ternyata walaupun kulitnya masih kelihatan hijau tapi dalamnya sudah kuning alias sudah matang. Bisa aja nih si penjual jeruk. Selepas itu saya juga menjumpai seorang pengemis yang buta. Dia berjalan memakai tongkat dengan menengadahkan tangannya. Wajahnya tampak kelelahan karena harus menyusuri gerbong satu ke gerbong lainnya.
Saya juga menjumpai seorang ibu yang meratap meminta belas kasihan para penumpang. Umurnya saya kira tidak jauh beda dengan ibu penjual rokok yang saya jumpai sebelumnya. Si Ibu ini terus meratap meminta shodaqoh kepada setiap penumpang yang dilewatinya. Bila ada yang memberi dia mengucapkan alhamdulillah. Selama di gerbong yang saya naiki, kira kira 10 kali dia mengucapkan alhamdulillah. Kalau satu orang memberi seribu rupiah, berarti dia bisa dapat 10 ribu rupiah, hanya dari satu gerbong saya saja. Padahal di kereta tersebut ada lebih dari 10 gerbong. Hm....hasilnya banyak juga ya. Namun dugaan saya, si Ibu ini sebenarnya juga tidak nyaman/puas dengan hasil yang dia dapat. Saya kok punya keyakinan bahwa dia pasti tidak mengharapkan anaknya menjadi peminta minta seperti dirinya. Namun nampaknya dia sudah terbiasa dengan cara tersebut. Padahal kalau saya lihat dari fisiknya yang masih kuat, bisa saja dia memilih untuk berjualan kue atau snack di kereta tersebut. Ach..Saya tidak bermaksud "menjudge" seseorang, saya hanya menceritakan apa yang ada dalam pikiran saya. Dalam hati saya tetap berdoa, semoga orang orang yang saya temui selalu mendapatkan kebaikan.
Sampai di Stasiun Senen, banyak penumpang yang turun, sehingga akhirnya saya bisa duduk setelah kurang lebih satu jam berdiri. Perjalanan terus berlanjut. Kereta tersebut akhirnya sampai di Stasiun Kota kira kira jam setengah sembilan. Dari stasiun Kota saya berjalan kaki menuju Pasar Pagi Asemka untuk berbelanja berbagai asesoris untuk melengkapi koleksi Kafana. Kurang lebih selama tiga jam saya disana. Selesai belanja di Asemka, perjalanan saya lanjutkan dengan naik mikrolet 08 ( Kota- Tanah Abang) untuk berbelanja di toko H. Ali. Agenda saya memang padat, setelah berbelanja di toko H. Ali, saya langsung meluncur ke Kebayoran Lama untuk bersilaturohmi ke markas Manet. Sharing pertemuan saya dengan H. Ali dan Pak Roni di markas Manet sudah saya posting sebelumnya.
Salam
Faif Yusuf

Insight Of The Day

"Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand."

Albert Einstein1879-1955,
Physicist

Thursday, June 7, 2007

Inspired Action


Dari kiri : Saya, Pak Toni, Pak Roni

Saya datang ke manet bersama Pak Herizal (tengah)

Selepas belanja dan silaturohmi ke Ruko Pak H. Ali Rabu kemarin, saya bersama Pak Herizal, langsung meluncur ke markas Manet milik Pak Roni, Sang Jenderal TDA, di Kebayoran lama. Silaturohmi ini sebetulnya sudah saya agendakan sejak lama. Saya janjian dengan Pak Herizal di lobby depan Pasar Tanah Abang Blok A. Sampai dimanet kira kira jam dua. Kami memang tidak membuat janji terlebih dahulu. Yang penting silaturohmi ke manet, pikir saya. Alhamdulillah Pak Roni ada di kantor manet dan kebetulan disana ada Pak Toni, member TDA juga.

Seperti biasa, kalau ketemu sesama member TDA. Frekuensi langsung nyambung. Kami ngobrol tentang banyak hal. Mulai dari kisah transformasi bisnis yang dilakukan manet, karakteristik perdagangan di tanah abang, strategi bisnis H. Ali dan masih banyak lagi. Diskusi yang mengalir dan sangat mengasyikkan tersebut tidak semuanya tentang bisnis. Kami juga sharing seputar kehidupan. Kebetulan diatas meja tamu manet ada buku Quantum Ikhlas, karya Bp. Erbe Sentanu. Kebetulan paginya Pak Roni habis silaturohmi ke rumah Pak Erbe Sentanu di Cinere. Obrolan semakin seru terutama ketika Pak Roni menjelaskan fenomena the secret dengan perspektif "Quantum Ikhlas" nya Pak Erbe Sentanu. Saat itulah saya mengenal istilah " Inspired Action". Action yang dilandasi semangat / inspirasi dari lubuk hati yang paling dalam. Bukan action yang sifatnya hanya "impulse" saja. Inspirasi dari hati tersebut akan mengalir ke pikiran, kemudian mewujud dalam bentuk inspired action. Tindakan yang didasari inspirasi dari dalam inilah yang pada akhirnya akan menjadi habit. Habit itulah yang kemudian akan menentukan nasib kita kedepan.

Saya jadi ingat pepatah dalam bahasa Inggris :" we first make our habit, then our habit makes us". Kita sendiri yang mesti pertama tama membuat sebuah kebiasaan positif dalam hidup kita. Setelah itu kebiasaan itulah yang akan membentuk watak kita. dan akan berpengaruh terhadap nasib atau hidup kita.

Hm...saya semakin penasaran dengan konsep Quantum Ikhlas ini. Terus terang saat ini saya sendiri belum baca bukunya.

Perbincangan yang amat menarik tersebut benar benar membekas di hati saya. Kira kira jam setengah empat Mbak Yulia, Jawara Salon Muslimah, datang ke manet. Diskusi pun semakin seru. Mbak Yulia dengan sangat bersemangat sharing ketika dia mengambil keputusan utnuk menjadi full TDA. Hmm.....memang luar biasa Srikandi TDA yang satu ini. Tidak terasa waktu sudah mendekati maghrib, sehingga saya harus mohon pamit dengan membawa "oleh oleh" insight baru untuk saya renungkan.

Salam Fuuntastic

Faif Yusuf