Thursday, May 31, 2007

Katak Rebus

Ketika saya masih kecil, saya sering sekali mendengar nyanyian seekor katak. Maklum, saat itu katak-katak tersebut masih merasa "at home" hidup di kampung saya. Waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan perilaku seekor katak, sampai saya membaca sebuah ilustrasi menarik mengenai perilaku katak.

Seekor katak yang dicemplungkan ke dalam air mendidih akan berontak dan segera meloncat keluar dari pancinya. Jadi, ia selamat walaupun memiliki luka-luka lepuh di kulitnya. Di Panci yang lain terdapat air hangat dengan temperatur sedang. Saat katak diceburkan ke dalamnya, ia merasa nyaman dengan temperatur air itu. Ia berenang dan menyelam ke sana ke mari. Perlahan-lahan temperatur air dinaikkan. Walaupun merasakan perubahan, si katak masih dapat mentoleransinya, jadi ia tetap tinggal di dalam panci tersebut. Pada akhirnya, si katak ini bahkan tidak pernah meloncat keluar. Temperatur air perlahan-lahan sudah menjadi cukup tinggi sehingga si katak ini kini telah menjadi katak rebus.

Mungkin Anda pernah mendengar tentang 'comfort zone' atau zona nyaman? Teman saya pernah berkata kepada saya ketika dia tahu saya masih bekerja di tempat saya yang sekarang. "Wah..hati hati, kamu kayaknya udah masuk dalam "comfort zone".

Begitu katanya sambil terus memprovokasi saya untuk segera pindah ke tempat yang menurut dia jauh lebih baik. Comfort zone sering kali dikecam atau dipandang miring oleh banyak orang. Seseorang dikatakan berada dalam comfort zone saat ia telah merasa nyaman dengan apa yang telah dicapainya. Ia menjadi lamban, berpuas diri dan tidak responsive terhadap perubahan. Tetapi menurut saya permasalahan yang sebenarnya terletak pada attitude atau sikap kita.

Jadi tidak ada yang salah dengan comfort zonenya sendiri. Jika Anda memiliki hidup yang nyaman namun selalu tetap mau belajar dan merespon perubahan atau selalu proactive, maka Anda akan bisa bertahan untuk hidup nyaman. Tetapi jika Anda saat ini unggul, kemudian merasa puas diri, tidak mau mendengarkan kritik, dan tidak belajar menghadapi perubahan, maka hal ini bisa membuat Anda jatuh. Anda akan kehilangan kenyamanan Anda. Setelah jatuh lalu apa? Bangkit lagi, belajar lagi dari pengalaman. Supaya apa? Supaya Anda bisa kembali unggul. Singkatnya, supaya kembali ke comfort zone lagi. Jadi sebetulnya tidak ada yang salah dengan comfort zone itu sendiri.

Apa yang jauh lebih 'mematikan' (ingat cerita katak di atas) sebenarnya adalah semi comfort zone. Seseorang berada dalam semi comfort zone saat ia sebenarnya tidak puas dengan HASIL yang ia capai, (jadi hidupnya sebenarnya tidak nyaman), tetapi ia merasa nyaman/terbiasa dengan CARA atau aktivitasnya. Saya memiliki seorang teman yang sering mengeluh tentang pekerjaannya. Orang ini secara materi dan jabatannya sebetulnya jauh di atas saya. Sebagai seorang kepala keluarga dengan istri yang tidak bekerja dan dua orang anak, ia merasa penghasilannya sangat pas-pasan. Ia juga membanding-bandingkan pekerjaannya dengan orang lain, dan menurutnya di perusahaan lain, pekerjaan yang sama dihargai jauh lebih tinggi. 'Mengapa kamu tidak mencoba usaha sendiri? saran saya. Ia berpikir sebentar, lalu menjawab , "Nantilah. Saya akan lihat lagi ke depannya bagaimana." Beberapa bulan kemudian, ia kembali dengan keluhan yang sama. Dan juga dengan 'Nanti' yang sama. Aneh sekali. Ia berada dalam semi comfort zonenya. Meskipun tidak puas dengan HASIL, tetapi ia merasa nyaman dengan CARAnya. Mungkin lingkungan kerja/teman-teman kantornya yang cocok. Mungkin jarak kantornya yang relatif dekat ke rumah. Mungkin jam kerjanya yang bisa cukup flexibel. Apapun itu, itu cukup membuatnya nyaman sehingga walaupun tidak puas dengan HASIL, tetapi ia bahkan tidak mencoba berubah. Ia bahkan tidak meng'explore' alternatif lain yang mungkin dimilikinya. Ia tidak mencoba 'meloncat keluar dari panci' untuk melihat kalau-kalau ada air hangat di tempat lain. Saat harga barang-barang naik, saat anaknya bertumbuh dan membutuhkan biaya sekolah yang lebih besar, ia makin terjepit. Ini adalah ibarat saat temperature air dalam cerita katak di atas pelan-pelan dinaikkan. Mudah-mudahan ia bisa meloncat keluar sebelum menjadi 'katak rebus'.

Bila Anda juga merasa sebagai “katak rebus”, sudah saatnya keluar dari panci yang merebus Anda. Ini akan membuat hidup Anda jauh lebih baik. Buatlah kesalahan Anda sebagai sebuah kelebihan. Kalau Anda menemui kegagalan di masa lampau, itu tidak berarti bahwa Anda akan terus gagal, demikian pula jika Anda sukses di masa lampau tidak berarti bahwa Anda akan terus sukses.

Apakah saat ini Anda merasa tidak puas dengan HASIL, tetapi masih terbiasa dengan CARA ?Hmmm......berhati hatilah.
Bukankah hanya orang "gila" yang mengharapkan hasil yang jauh berbeda, tapi tetap melakukan hal yang sama.

Bagaimana Pendapat Anda ?

Salam Funtastic
Faif Yusuf
http://faifyusuf.blogspot.com

NB. Hari ini Tim Kafana Distro kembali mengikuti Bazaar dalam rangka olimpiade anak anak se-Kab Bekasi di Kampus Putra Dharma. Semoga sukses seperti Bazaar dalam Kid's Extravaganza sepuluh hari yang lalu.

Wednesday, May 30, 2007

Jangan baca posting ini !

Ketika membaca judul dari posting ini, apakah judul tersebut malah membuat anda menjadi ingin membaca? Membuat anda menjadi ingin tahu kenapa tidak boleh membaca?

Apabila saya katakan dengan anda, jangan sekali kali membayangkan, sekali lagi, jangan sekali kali membayangkan menjadi bintang tamu acara empat mata bersama Tukul Arwana. Maka apa yang terjadi, maka justru yang terbayang di otak kita adalah kita sedang duduk bersama Tukul Arwana di acara tersebut.

Mengapa bisa begitu padahal saya melarang anda untuk membayangkannya. Hal ini terjadi karena otak kita tidak mengerti kata-kata "Tidak". Jadi kalau anda mau berhenti merokok, tetapi kata-kata yang sering anda ucapkan "Saya tidak ingin merokok lagi", maka kata-kata tersebut tidak akan berhasil karena otak anda mengertinya "Saya ingin merokok lagi".Kemudian ada pertanyaan yang bagus : Bagaimana kalau saya mengatakan "Saya tidak ingin kaya", apakah berarti otak akan mengertinya "Saya akan kaya" ?

Hasil riset dari Dr. Larry Cahill menunjukkan bahwa pikiran manusia merekam sesuatu dalam bentuk "Gambar". Sebagai contoh, saya tanya kepada anda "Apa yang anda lakukan tadi malam sebelum tidur?" Yang muncul di kepala anda pasti sebuah gambar dari apa yang anda lakukan dan bukan sederetan kata-kata, atau yang lainnya. Contoh lain lagi, sekarang saya katakan "Jangan menangis!". Apa kira-kira yang ada di benak anda ? Apakah gambaran orang yang menangis ? Mungkin itu gambaran anak anda yang sedang menangis, atau mungkin gambaran diri anda sendiri atau teman anda waktu menangis. Ternyata otak kita tidak mengenal kata negatif seperti "Tidak", "Jangan", dll. Jika kita berkata kepada anak kita "Jangan main pasir!" maka yang ada di benaknya adalah "Bermain pasir" maka ia akan terus bermain pasir. Jika anda ada di puncak Monas, mungkin anda berkata dalam hati "Jangan lihat ke bawah", tetapi yang terjadi anda justru tergoda untuk melihat ke bawah, karena otak tidak mengerti kata "Jangan".

Contoh lain lagi, jika saya bilang "Buku" maka di otak kita akan muncul gambar buku. Saya bilang "Kenaikan Penjualan" maka otak kita bisa membayangkan misalnya grafik penjualan yang mengalami kenaikan. Jika saya katakan "Komputer Bukan Mainan" maka kata-kata "Komputer" bisa kita bayangkan, kata-kata "Mainan" bisa kita bayangkan, tetapi kata-kata "Bukan" tidak ada gambarnya. Jadi ketika kita membaca atau mendengar kalimat "Komputer Bukan Mainan", maka gambar yang terbuat diotak kita adalah "Komputer dan Mainan".

Tetapi jika kata-kata yang didengar tidak dimengerti maka tidak menghasilkan gambar apa-apa. Contohnya, bisakah anda membayangkan makanan yang bernama "gatot"? Bagi anda yang berasal dari Solo dan sekitarnya mungkin bisa, karena sudah tahu jenis makanan ini. Tapi bagi yang tidak tahu, dia tidak akan bisa membayangkan apa apa

Bagaimana dengan kasus pertanyaan "Saya tidak kaya". Jika sekarang ini anda belum kaya dan anda mengatakan "Saya tidak kaya", gambar apa yang ada di benak anda ? Apakah gambaran anda sedang bekerja keras dari gelap sampai gelap lagi? Apakah gambaran anda sedang tinggal di rumah petak ? Apakah gambaran anda sedang bergelantungan di bis kota ? Jadi yang lebih penting adalah gambaran yang ada di benak kita, bukan yang kita katakan. Kalau mau tahu apa hasil dari suatu perkataan, tanyakan pada diri anda sendiri gambaran apa yang ada di benak anda, maka itulah yang anda percayai. Dan gambaran itulah yang akan menjadi " The Law of Attraction".

Bahkan Wallace D. Wattles, pengarang buku legendaris "The Science of Getting Rich" sampai menulis dalam bukunya : "I must form a clear mental picture of the things I want. And, I must hold this picture in my thoughts with the fixed purpose to get what I want, and the unwavering faith that I will get what I want. Closing my mind to all that may tend to shake my purpose, dim my vision or quench my faith".

So.... Hati-hatilah terhadap apa yang anda bayangkan karena the law of attraction selalu bekerja.


Salam
Faif

Ilham


Ilham di ITC Cempaka Mas

Bersama Ilham di Dufan

Bersama Ilham di teras rumah

Ilham sedang mencuci motor di depan rumah



Ilham, selamat ulang tahun sayang. Hari ini, 30 Mei, kamu tepat berumur 3 tahun. Ayah masih ingat ketika dua minggu sebelum waktu kelahiranmu, ayah mengantar Bunda pulang ke Sragen dengan naik bis Gajah Mungkur. Kami memang merencanakan untuk menjalani proses kelahiranmu di kampung halaman. Ayah juga masih ingat ketika Bunda telepon berkonsultasi mengenai tempat bersalin. Sebelumnya kami merencanakan untuk menjalani proses tersebut di praktek bidan dekat rumah Eyang. Namun dengan berbagai pertimbangan, bunda berubah pikiran dan meminta persetujuan ayah untuk menjalani proses kelahiran di rumah sakit bersalin Denta Tama. Rumah sakit bersalin ini dipimpin oleh dokter spesialis yang sangat terkenal di kota Sragen. Dalam check up dan konsultasi terakhir sebelum kelahiranmu, Bunda amat terkesan dengan dokter tersebut. Dan meminta persetujuan ayah untuk menjalani proses kelahiranmu di sana. Hal ini tentu berkaitan dengan biaya yang harus ayah keluarkan. Rumah sakit tersebut terkenal mahal, namun pelayanannya sangat bagus. Waktu Bunda telpon, saat itu ayah sedang ada di Bandung. Tepatnya di sebuah FO di Jl. Dago. Ayah lupa nama FO-nya. Ayah sedang menemani sahabat ayah, Om Herizal, survey dan sekaligus belanja barang dagangan untuk kemudian dijual lagi di toko "FOKUS" Om Heri di Penayong Banda Aceh. Sayang, ayah belum sempat berkunjung ke toko Om Heri tersebut karena ikut hancur ketika bencana tsunami menghantam Banda Aceh beberapa tahun yang lalu.

Dalam perbincangan telpon di FO tersebut, ayah langsung menyetujui permintaan Bunda dan meminta Bunda untuk tidak risau soal biaya. Insya Allah rejeki ada aja, begitu kata ayah meyakinkan Bunda.

Ayah di Bandung bersama Om Heri selama tiga hari dua malam. Berangkat hari Jumat dan pulang hari Minggu. Pada hari Minggu siang ayah tiba kembali di Jakarta dan langsung menuju ekspedisi PM Toh di dekat Pasar Tanah Abang untuk mengirimkan barang belanjaan ke Banda Aceh. Setelah semua urusan selesai ayah pamit sama Om Heri untuk pulang ke Bekasi. Sampai di rumah kira kira jam empat sore. Sesaat kemudian, telepon ayah berdering. Ayah lihat ternyata dari Bunda. Saat itu Bunda sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Bunda diantar Pa'de Aris dan ditemani Eyang Putri. Dalam telpon tersebut Bunda masih banyak bercanda dan tertawa. Namun untuk mengantisipasi segala kemungkinan, maka lebih baik ke rumah sakit sekarang, karena menurut perhitungan sudah saatnya. Setelah mendapat telpon tersebut ayah langsung bersiap untuk pulang ke Sragen. Ayah tidak mau kehilangan moment kelahiranmu. Ayah ingin mendampingi Bunda saat melahirkanmu.

Dalam perjalanan dengan naik bis Gajah Mungkur langganan ayah, ada sms masuk. " Yah, sudah lahir, laki laki, sehat dan selamat". Subhanallah. Ayah langsung memanjatkan puji syukur kepada Allah. Saat itu jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ayah sedikit heran dengan proses yang sedemikian cepat. Padahal sore harinya (kira kira jam setengah lima) Bunda masih tertawa tawa di telpon ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. Rupanya ketika sampai rumah sakit ( sekitar maghrib), pihak rumah sakit menyatakan bahwa Bunda sudah pembukaan 3. Akhirnya ba'da maghrib Bunda masuk ruang bersalin, dan kamu lahir tepat setelah Isya'. Semua proses persalinan dipimpin langsung oleh dr. Kuncoro dan berjalan dengan lancar.

Sepanjang perjalanan ayah selalu membayangkan dirimu. Ayah penasaran sekali. Satu malam di perjalanan rasanya lama sekali. Ayah sampai di Sragen ketika waktu shubuh dan langsung menuju rumah sakit Denta Tama, tempat kamu dilahirkan. Bunda menyambut ayah dengan senyum dan tangis bahagia. Setelah berbincang sesaat ayah langsung naik lantai 2 untuk melihat dirimu yang ada di ruang bayi. Kamu sedang tidur waktu itu. Subhanallah, badanmu kelihatan sehat dan montok. Bobotmu waktu itu 3.5 kg.

Kamu dikampung selama tiga bulan. Selama waktu itu ayah hampir tiap minggu bolak balik Jakarta - Solo untuk menengokmu. Ayah selalu kangen mendengar tangismu. Rasa capek diperjalanan seolah terhapus begitu menatap mata beningmu. Waktu umur 3 bulan, kamu harus menempuh perjalanan Solo-jakarta dengan travel selama 12 jam. Saatnya kamu berkumpul kembali dengan ayah dan bunda di rumah kita sendiri.

Kamupun tumbuh sehat dan semakin lincah. Tawa candamu selalu menghiasi hari hari yang kita lalui bersama. Rumah mungil yang kita tempati saat ini sungguh terasa sepi tanpa kehadiranmu. Kita pindah ke rumah ini saat kamu masih dalam kandungan. Sebelumnya kita tinggal di sebuah rumah petak yang kita kontrak Rp. 300.000,- sebulan. Ayah bahagia bisa mempersembahkan rumah mungil ini, sehingga setelah kamu lahir, kamu tidak perlu lagi tinggal di rumah petak yang tentu amat sempit untuk menampung kreativitasmu.

Dalam kesempatan ulang tahunmu yang ke-3 ini. Ayah juga ingin mengucapkan terima kasih yang teramat dalam kepadamu. Atas inspirasi yang tidak ada habis habisnya. Atas canda tawa yang membuat dunia ini semakin terasa indah. Ayah juga berterima kasih kepada Bunda dan dirimu atas pengertian dan kesabaranmu di dalam mendampingi ayah terutama dimasa masa sulit. Banyak sudah suka duka yang kita alami bersama. Mulai dari beberapa bisnis ayah yang hasilnya hanya "ongkos belajar", sampai ketika kamu harus dirawat di rumah sakit karya medika setahun yang lalu.

Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai lagi dengan usaha yang baru, kafana distro. Secara tidak sadar, kamu amat terlibat didalamnya. Walaupun mungkin kamu belum mengerti. erhubung sampai saat ini kamu belum bisa berpisah dengan Bundamu, kamu selalu kami ajak serta setiap belanja dagangan. Kamupun nampak sangat enjoy karena kami menjadikan itu sekaligus sebagai acara jalan jalan. Setiap belanja tidak lupa kami selalu membelikan es krim kesukaanmu. Kamupun sekarang udah amat akrab dengan ITC Cempaka Mas, SGC, dan Pasar Tanah Abang. Walaupun kadang keikutsertaanmu membuat ayah sangat kerepotan. Apalagi kalau kamu tidak kuat menahan kantuk. Ayah harus menggendongmu selama berjam jam sambil menemani ibumu berbelanja.

Pernah suatu ketika ayah ajak kamu jalan jalan berkeliling ITC Cempaka Mas sementara Bundamu berbelanja. Rupanya kamu kecapean dan minta naik di atas trolly carrefour yang bisa didapat di dekat eskalator. Kamupun duduk manis di atas trolly sambil melihat jejeran toko yang ada disana. Setelah beberapa lama, ayah dapati kamu telah tertidur pulas dan menyandarkan kepalamu pada tangan kanan ayah yang sedang memegang trolley. Akhirnya ayah angkat kamu dan ayah taruh di dalam trolly yang kebetulan hanya berisi tas yang kita bawa. Kamupun meringkuk dan masih tertidur pulas disana. Sampai sampai Mbak Puji dan Mbak Rita ( karyawan di Show room Jilbab Permata) tersenyum dan heran melihat pulasnya tidurmu. Saat itu hati ayah benar benar trenyuh melihat kesabaranmu.

Partisipasimu di toko juga membuat ayah kagum. Setiap ada pembeli datang kamu selalu ingin membantu atau lebih dulu melayani. Walau kadang hal itu menyebabkan Bundamu merasa kesal. Tapi kami sangat menghargai inisiatifmu. Ayah juga sering tersenyum ketika kamu protes tatkala ada pelanggan datang dan melihat lihat dagangan kita. Kamu dengan polosnya bilang :" ini untuk dijual". Yach...kamu memang belum mengerti kalau pelanggan tersebut melihat lihat untuk kemudian membelinya.

Kamupun sudah bisa mengucapkan kata kata : “ sukses luar biasa”. Walaupun masih belum begitu jelas. Namun semangatmu dalam melafalkannya seakan akan kamu sudah tahu maknanya. Rupanya kamu sering menyimak ketika ayah mendengarkan Talkshow Andri Wongso di Smart FM. Seperti biasanya kamu selalu mampu merekamnya dengan baik dalam memori kamu. Ingatanmu memang sangat dahsyat. Setiap kali habis bepergian misalnya, kamu selalu berhasil merekam dengan sangat detail apa yang kamu lihat. Bahkan banyak hal yang tidak menjadi perhatian kami ternyata berhasil kamu rekam juga.

Ayah juga senang dengan keinginanmu yang kuat jika mengharapkan sesuatu. Walau untuk itu ayah harus sering mengalah. Misalnya ketika Ayah sedang asyik menyaksikan Economic Challenges di Metro TV, tiba tiba kamu minta acara di switch ke Space Stoon untuk menonton tayangan kesukaanmu.

Alhamdulillah saat ini kamu sudah mau belajar ngaji di masjid, meskipun disana lebih banyak mainnya. Kamu juga selalu menemani jika ayah ke masjid. Walaupun ketika sedang sujud kamu sering naik ke punggung ayah. Sengaja ayah biarkan untuk beberapa lama sampai kamu merasa puas. Ayah juga senang melihat gayamu dalam berwudhu. Benar benar luar biasa.
Optimisme khas anak anak yang selalu kamu pancarkan sungguh selalu menjadi inspirasi ayah untuk terus berkarya.

Sekali lagi, selamat ulang tahun anakku. Semoga kamu menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat bagi masyarakat.



Amin

Salam

Ayahnya Ilham

Monday, May 28, 2007

Efektivitas Sebuah Bazar

Tampak salah satu Gedung Pendidikan Putra Dharma, tempat bazaar berlangsung


Salah satu dari puluhan atraksi dalam Kid's Extravaganza 2007


Suasana stand kafana distro yang ramai dikunjungi pembeli

Hari sabtu kemarin, 26 Mei 2007, Kafana Distro mengikuti Bazaar dalam acara Kid's Extravaganza 2007 di kampus Putra Dharma Bekasi (TKIT, SDI, SMP). Lokasi Kampus Putra Dharma tersebut kira kira hanya 300 meter dari Kafana Distro. Informasi Bazar saya peroleh dari salah seorang guru di sekolah tersebut yang merupakan pelanggan setia Kafana Distro. Informasi tersebut saya dapatkan hari Kamis. Hari Jumat istri saya langsung datang untuk mendaftar dan mengambil nomer stand.

Jam setengah tujuh pagi saya sudah bersiap berangkat ke lokasi. Saya sudah menyiapkan X Banner Rabbani, satu buah gawang, sebuah rak, dan beberapa peralatan lainnya. Saya sampai bolak balik sebanyak tujuh kali untuk mengangkut barang dagangan ke lokasi. Jam tujuh lewat 30 menit, alhamdulillah stand sudah siap. Situasi juga sudah ramai sekali. Kampus Putra Dharma tersebut ternyata luas sekali. Disana ada TKIT, SDI, dan SMP. Gedung dan fasilitas pembelajarannya juga lengkap. Kid's extravaganza 2007 ini dihadiri kurang lebih 5000 orang, yang terdiri dari seluruh siswa dan wali murid dari TK,SD dan SMP, serta masyarakat sekitar.

Kafana Distro sendiri menempati stand bazar No 6 (depan SDI). Posisi ini berada di belakang panggung. Tempatnya lebih sejuk karena berada dibawah pohon. Stand mulai ramai dikunjungi setelah acara inti selesai. Acara tersebut diramaikan oleh berbagai atraksi baik dari siswa (TK,SD,SMP), perhimpunan wali murid, dan guru.

Target saya sendiri sebetulnya lebih kearah promosi dan pengenalan kafana distro kepada khalayak yang lebih luas. Saya pikir komunitas Putra Dharma adalah target market yang pas. Mereka bisa dikatakan kelas menengah, dan berasal dari berbagai perumahan yang ada di Bekasi. Jadi event ini saya anggap cukup strategis untuk meningkatkan leads bagi kafana.

Ternyata prediksi saya tidak meleset. Bazaar ini boleh saya bilang cukup sukses. Disamping kami membukukan transaksi yang lumayan, leads kafana juga bertambah. Hal ini terbukti ketika besoknya, pada hari minggu, ada customer yang baru pertama kali datang dan langsung mendaftar sebagai reseller. Transaksi /belanja pertama langsung cukup besar, hampir satu juta rupiah, dan masih meninggalkan pesanan untuk kami follow up. Ternyata dia tinggal di perumahan yang lokasinya cukup jauh dari kafana distro. Setelah istri saya tanya dari mana mengetahui kafana distro, ternyata dia mendapat informasi dari temannya yang datang pada saat Bazaar kemarin. Kebetulan kemarin saya juga menyebarkan brosur yang berisi seputar koleksi produk dan lokasi kafana distro.
Setelah Bazar selesai, kamipun pulang ke toko dengan perasaan senang. Sungguh ini adalah pengalaman yang amat berharga bagi kami. Beberapa hal yang kami pelajari tentang efektivitas Bazaar kemarin :

1. Tetapkan tujuan

Sebelum mengikuti Bazar, saya sudah tetapkan bahwa tujuan utama adalah promosi atau pengenalan kafana distro. Sehingga kalaupun tidak terjadi transaksi, saya sih santai aja. Toh biaya sewa stand "hanya" Rp. 25.000,-. Saya anggap itu sebagai biaya promosi. Dengan begitu saya bisa menikmati Bazar tersebut. Nothing to loose. Kalau dalam bazaar kemarin ternyata transaksi yang terjadi melebihi ekspektasi saya, berarti itu sebuah "kanugrahan" yang harus saya syukuri.

2. Tentukan Target Market

Sebelum memutuskan untuk ikut serta, saya melakukan analisis sederhana. Kira kira siapa yang akan datang dalam acara tersebut. Setelah tahu bahwa seluruh orang tua/wali murid akan hadir. Saya langsung putuskan untuk ikut serta. Karena menurut saya mereka adalah target market yang saya bidik selama ini. Setahu saya para orang tua/ wali murid dari TK sampai SMP Putra Dharma tersebut, kebanyakan adalah Bapak & Ibu pekerja dengan daya beli yang cukup tinggi. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang datang dengan mengendarai mobil.

Ketika masih pagi dan stand masih sepi, istri saya sempat merasa gusar. Sayapun menghibur dengan mengingatkan bahwa sekali lagi target kita adalah promosi, bukan mengejar transaksi. Jadi enjoy aja. Nanti juga banyak yang kesini. Sayapun sempat memberikan analisa dan ternyata salah. Saya pikir yang bakalan laku adalah produk dengan karakteristik impulse buying (pembelian tak terencana) dan harganya murah. Sementara produk yang saya bawa rata rata harganya cukup tinggi untuk ukuran bazaar. Sehingga saya tidak terlalu berharap langsung terjadi transaksi saat itu. Tapi ternyata analisa saya salah. Hampir semua produk yang saya bawa menyumbangkan transaksi pada hari tersebut. Bahkan ada beberapa orang yang nilai transaksinya rata rata 200 ribu, karena yang dibeli adalah busana muslim anak dannis dan koleksi blus eksklusif. Transaksi juga terjadi untuk produk Rabbani, Permata, Mukena, dan asesoris.

3. Pilih Posisi Stand Yang Strategis
Berhubung kami mendaftar pada saat injury time, terus terang kami tidak menempati stand yang cukup strategis. Namun X Banner Rabbani yang kami pasang, cukup memberikan identitas dan differensiasi. Walaupun posisi stand ada di bagian belakang, namun stand tersebut cukup mudah diakses oleh pengunjung. Hal ini membuat kami lebih semangat dengan banyaknya orang yang lewat, sehingga kemungkinan terjadi transaksipun lebih besar.
Semoga dalam event bazar berikutnya, kami mendapatkan pelajaran yang lebih berharga lagi.


Salam

Faif Yusuf

Friday, May 25, 2007

Insight of the day

"Do not wait; the time will never be 'just right.' Start where you stand, and work with whatever tools you may have at your command, and better tools will be found as you go along."

Napoleon Hill
1883-1970, Author

I N I K A H K E H I D U P A N ?

Seringkali kita mengira
Hidup akan menjadi lebih baik
Saat kita menikah dan mempunyai anak

Dan ...
Kegembiraan datang saat anak kita lahir

Namun itu hanya sesaat saja
Kita merasa kesal karena sebagian besar waktu
Dihabiskan untuk mengurusi anak kita hingga mereka besar
Kita ingin mereka cepat dewasa dan mampu mengurus diri sendiri

Seringkali kita mengira
Hidup akan menjadi lebih baik
Saat kita bisa meningkatkan karir di kantor

Dan ...
Kegembiraan datang saat kita dipromosi

Namun itu hanya sesaat saja
Kita merasa kesal karena sebagian besar waktu
Dihabiskan untuk mengurusi masalah anak buah kita
Kita ingin mereka mampu mengurus masalah mereka sendiri

Inikah kehidupan ?
Kebahagiaan hanya bisa dirasakan sesaat saja ?
Untuk selanjutnya timbul masalah-masalah baru yang lebih berat ?

Ada dua pilihan dalam hidup ...
Menerima kondisi apa adanya,
Atau bersikap positif terhadap kondisi yang ada

Untuk bahagia,
Tidak perlu menunggu ...
Sampai kita pensiun
Sampai kita menikah
Sampai kita lulus kuliah
Sampai kita mempunyai anak
Sampai kita dipromosi di kantor
Sampai kita mempunyai rumah yang bagus

Tapi kita bisa mulai hari ini juga

Saat kita menghadapi masalah
Dan kita bisa menjawab tantangan tersebut
Saat itulah kita dapat merasakan kebahagiaan

Tantangan selalu ada setiap saat
Hadapi tantangan dengan senyum
Dan duniapun akan tersenyum kembali kepada kita

Source : Unknown

Salam Sukses
Faif Yusuf

Thursday, May 24, 2007

Take It or Lose It


Saya sedang berdiri menjelaskan materi dalam Field Leader Course
ada aja peserta yang iseng & noleh ingin di photo

Saya (paling kanan) bersama internal trainer yang lain Photo diambil sebelum tracking ke air terjun cibereum di gunung gedhe

Pertengahan tahun lalu saya memberikan pelatihan untuk para kepala unit pabrik di tempat saya bekerja. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari di Villa Via Renata Puncak Jawa Barat. Trainer memang sengaja diambil dari dalam perusahaan sendiri untuk menghemat biaya. Saya mendapatkan sesi di hari pertama. Diakhir sesi, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh tiga orang.Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya berikan kepada seluruh peserta.Seperti dugaan saya, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Beberapa orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.Hasilnya? Tiga orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Tiga orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil.Lalu saya katakan kepada mereka : "Inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Jika Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya". Setelah saya jelaskan seperti itu, salah satu peserta yang tidak mendapatkan bagian masih saja nyeletuk membela diri : " Pak Faif, saya khan orang baik, jadi kesempatan dan rejeki saya berikan kepada teman saya". Celetukan itupun disambut dengan gelak tawa seluruh peserta. Padahal saya yakin kalau saya jelaskan maksud game itu sebelumnya, dia pasti akan berusaha sekeras kerasnya untuk mendapatkan guntingan yang paling besar.

Dalam seminar Brad Sugar "Billionair In Training" beberapa waktu yang lalu. Dia mengeluarkan uang kertas dari sakunya, nilainya seingat saya dua puluh dollar. Dia menawarkan kepada peserta siapa yang mau uang tersebut dengan hanya menukarnya dengan uang senilai Rp. 10000,-. Ternyata dari hampir seribu peserta, saya lihat hanya tiga orang yang berhasil maju dan berebut uang tersebut. Saya sendiri yang duduk di bagian belakang, kalah cepat dengan mereka sehingga merekalah yang mendapatkan rejeki tersebut. Brad Sugar juga menjelaskan yang intinya hampir sama dengan yang saya ungkapkan di muka.

Pengalaman lain saya dapatkan ketika dalam perjalanan dari Bekasi menuju seminar Pak Tung di BPPT bulan lalu, ada seorang ibu yang naik di Pondok Gedhe dan berdiri agak jauh dari posisi saya duduk. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang `wajib' memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini orang lainlah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini. Setelah melakukan hal tersebut hati saya rasanya lega dan senang karena telah melakukan apa yang menjadi panggilan nurani saya.

Dalam soal rezeki, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. "Bangun kesiangan, rezekinya dipatok ayam tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, terdapat kemungkinan akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan rezeki. Saya sering mendengar teman kantor saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, "Ah, kalau cuma melakukan seperti itu sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan :" saya yakin Anda bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat Anda terus berbicara dan tak melakukan apa pun. Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika Anda sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan merubah hidup anda. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang bisa merubah nasibnya."

Semalam saya nonton Business Art Mario teguh di O Channel. Salah satu wise words yang saya catat : Tidak pernah lebih baik orang yang punya ilmu daripada orang yang menggunakannya. So kalau kita masih punya pemahaman bahwa knowledge is power, perlu sedikit kita tambah : "Applied Knowledge is Power.

Salam

Faif Yusuf

Wednesday, May 23, 2007

Sepenggal Kisah Kehidupan 2

Ayah saya di Masjid Quba. Masjid ini merupakan masjid pertama yang didirikan Rosullulloh Muhammad SAW ketika hijrah ke Madinah

Ayah dan Ibu saya ketika menunaikan ibadah haji tahun 1992



Selama ini saya memperoleh inspirasi dari banyak pihak. Teman, buku, pengalaman, pembacaan terhadap lingkungan, sampai pada kejadian kejadian kecil sehari hari. Diantara para inspirator tersebut, saya rasa yang paling banyak memberi inspirasi kepada saya adalah orang tua saya. Walaupun sejak SMP saya sudah tidak tinggal serumah lagi dengan mereka. Hal ini karena saya harus sekolah di kota dan tinggal di kos. Namun inspirasi yang saya dapatkan rasanya tidak ada habis habisnya. Ayah dan Ibu, bagi saya adalah sosok yang amat luar biasa. Seberapa panjangpun saya menuliskannya, bisa dipastikan tidak akan mampu menggambarkan betapa besar jasa dan inspirasi mereka dalam hidup saya.

Kisah perjuangan ayah saya, banyak saya dengar dari para sesepuh desa atau kolega beliau, disamping dari ayah saya sendiri tentunya.
Waktu muda ayah saya berprofesi sebagai guru SD di Kebumen Jawa Tengah. Beliau tinggal di sana kurang lebih selama 12 tahun. Suatu ketika nenek saya meminta beliau untuk pulang kampung dan membangun desa. Tidak sanggup menolak permintaan tersebut, akhirnya ayah saya pulang kampung. Pengabdian dia mulai dengan mengajar SD dan aktif dalam berbagai kegiatan di kampung. Diantaranya main rodad ( sejenis atraksi hiburan rakyat), dan mendirikan orkes melayu untuk tujuan dakwah. Ayah saya sendiri disamping sebagai pendiri, sekaligus tampil sebagai penyanyi.

Ketika pulang kampung, desa saya belum mempunyai masjid. Akhirnya ditanah milik kakek saya dibangun sebuah langgar (musholla). Dari situlah perjuangan ayah dimulai. Langgar yang dibangun terbuat dari bambu, dengan posisi lantai berada di atas (seperti rumah panggung). Pertama kali diadakan jumatan, jumlah jamaah hanya 7 orang. Pernah terjadi dalam sebuah sholat jamaah, ketika sedang khusyu’ sholat, tiba tiba lantai papan bambu buat makmum jatuh/ambrol ke bawah. Karena papan penyangga yang sudah rapuh dan tidak mampu menahan. Namun sholat tetap dilanjutkan dengan posisi Imam berada di papan atas (karena tidak ikut ambrol), sedangkan makmum di bawah. Dari peristiwa itu lahirlah tekad untuk membangun langgar tersebut dengan bangunan yang lebih kuat dan permanen. Maka renovasi pertamapun dilakukan. Tentu saja waktu itu saya belum ada. Saya mengetahui kisah ini hanya dari cerita ayah saya dan para sesepuh di kampung.

Setelah beberapa waktu mengajar, ada pilihan kepala desa. Atas desakan warga, ayah saya mencalonkan diri. Kebetulan ayah saya punya pendidikan lebih tinggi dibanding calon lainnya. Beliau seorang sarjana muda. Sebetulnya dia sudah melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana penuh, namun karena mungkin sibuk dengan bisnis jual beli kelapa waktu itu atau hal lain yang saya tidak tahu, pendidikan sarjana penuh tersebut tidak diselesaikan. Setelah melalui proses pemilihan yang katanya cukup menghebohkan , akhirnya ayah saya terpilih menjadi kepala desa. Setelah menjadi kepala desa, ayah saya tidak menerima gaji lagi seperti ketika masih menjadi guru. Imbalan yang diterima adalah sebuah tanah bengkok yang harus digarap sendiri agar menghasilkan. Sawah tersebut cukup luas. Masa kecil banyak saya habiskan disawah ini.

Ketika saya masih SD, mushola kembali dibugar dengan bangunan yang lebih besar. Dan ini tentu saja membutuhkan lahan yang lebih luas. Berhubung masjid tersebut berada di dalam satu lingkungan atau satu pagar dengan rumah saya maka sebagian halaman dan kebun diwakafkan ayah saya untuk perluasan masjid. Masa kecil banyak saya habiskan di lingkungan masjid ini. Jumlah jamaah juga semakin banyak. Semakin banyak orang dikampung saya yang sholat. Apalagi kalau bulan puasa. Wuih..ramai sekali. Pekerjaan saya salah satunya adalah merawat masjid tersebut. Menyapu masjid adalah pekerjaan sehari hari. Apalagi kalau hari Jumat. Sepulang sekolah SD, kira kira jam sebelas. Saya langsung beres beres di masjid. Menyapu lantai dan menyiapkan perlengkapan Jumatan ( loud speaker dsb). Waktu itu kampung saya belum dialiri listrik. Jadi kami masih mengandalkan accu. Amplifier yang ada di masjid, setiap malam juga saya rapikan untuk kemudian saya bawa pulang karena kurang aman kalau ditaruh di masjid. Besok sorenya sebelum maghrib saya bawa kembali ke masjid untuk dipasang. Kalau sore saya belajar membaca Alquran bersama anak anak yang lain di masjid dengan memakai lampu petromak. Ayah saya sendiri yang mengajar. Bagi yang sudah bisa baca, pakai system sorogan. Jadi kita baca dulu sampai betul betul mantap sekian ayat, kalau sudah siap kita maju ke guru ngaji untuk disimak. Satu hari biasanya satu halaman. Saya masih ingat waktu pertama kali mengkhatamkan AlQuran yaitu kelas IV SD. Ya...alhamdulillah di kelas empat saya sudah mengkhatamkan Alquran 30 Juz. Ketika sudah khatam biasanya diadakan acara khataman bersama sama. Biasanya acara dilaksanakan setelah ada beberapa orang yang khatam. Acaranya seperti kenduri/bancaan. Makanan dengan lauk ayam dan sayur urab plus kerupuk ditaruh diatas nampan dari anyaman bambu. Satu nampan bisa untuk makan 3-4 orang. Nasinya biasanya nasi gurih dengan taburan kedelai goreng diatasnya. Nikmat sekali rasanya.

Masjid di kampung saya tersebut telah beberapa kali mengalami renovasi. Saya tidak ingat pastinya. Yang jelas ukurannya semakin luas dan semakin megah dari waktu kewaktu. Pengalaman saya dimasjid cukup beragam. Ketika masih kecil, saya "hanya" ditugasi ayah untuk membersihkan masjid dan memelihara peralatan sound systemnya. Ketika remaja dilatih untuk biasa adzan termasuk adzan untuk sholat Jumat. Pada saat SMP kelas 3, ketika pulang kampung, untuk pertama kalinya saya diberi tugas ayah saya untuk menjadi Khotib dalam Sholat Jumat di masjid tersebut dan harus memakai bahasa Jawa.Wah... walaupun saya belajar/ latihan khitobah selama di Pondok, namun selama ini hanya pakai bahasa Indonesia. Namun Alhamdulillah tugas tersebut berhasil saya tunaikan dengan baik. Nenek saya sampai terheran heran dan bangga dengan saya karena dia bisa mengerti apa yang saya sampaikan. Nenek saya memang hanya mengerti bahasa Jawa. Dia tidak paham bahasa Indonesia. Pengalaman menjadi Khotib ini ternyata sangat berguna dan berlanjut sampai sekarang. Saya pernah beberapa kali diminta untuk menggantikan khutbah Jumat di kantor karena Khotib berhalangan hadir. permintaan ini selalu disampaikan mendadak oleh pihak DKM di kantor saya. Walaupun bekal saya hanya pas pasan, tapi saya berusaha untuk menjalankannya dengan baik. Apalagi sekali jumatan di pabrik, jamaahnya bisa mencapai ribuan orang. Jumlah karyawan di pabrik tempat saya bekerja sekarang memang ribuan. Ada pengalaman seru ketika pertama kali diminta jadi khotib di pabrik. Sehabis memimpin sholat Jumat, ada seorang Bapak dengan pakaian seorang ustadz yang langsung maju kedepan dan berbicara didepan mikrofon. Rupaya dia adalah khotib yang seharusnya mengisi saat itu. Dia langsung protes kenapa DKM tidak mau menunggu. Dia datang ketika saya sudah memulai khutbah. Pihak DKM mencoba memberikan pengertian bahwa kalau sholat Jumat terlambat dan karyawan ikut terlambat untuk kerja kembali, mereka akan di tegur oleh Manajemen. Profesi sebagai khotib pengganti tersebut ternyata ada tidak cuma sekali saja. Setiap ada khotib yang berhalangan, pihak DKM selalu minta tolong untuk menggantikannya. dalam kesempatan menjadi khotib kedua DKM malah memberikan uang transport kepada saya. tentu saja saya menolaknya. Uang transport apa, wong saya tinggal naik tangga saja kok. Tapi mereka meminta saya untuk menerimanya sebagai wujud penghargaan. Ya udah..akhirnya saya terima juga, alhamdulillah, rejeki min haisu laa yahtasib.


Waktu saya masih kecil, yang mempunyai pesawat televisi di kampung saya hanya keluarga saya ( maklum..lurah..he..he..). Berhubung belum ada listrik, kami mengandalkan accu. Setiap minggu saya selalu pergi ke tempat penyeteruman accu agar bisa menikmati acara televisi. Ketika ada acara televisi yangmenarik dan ternyata accu di rumah sudah habis setrumnya, maka saya pinjam accu ke tempat penyetruman tersebut. Kalau nggak ada yang full, saya pinjam saja accu seadanya kemudian saya gandeng/ parallel dengan accu saya dirumah. Hm..mau nonton tv aja kok repot ya. Para tetangga biasanya ngumpul di pendopo joglo rumah saya kalau mau nonton. Televisi kami yang hitam putih merk sharp tersebut memang sengaja ditaruh di pendopo agar bisa ditonton oleh orang banyak. Biasanya Ibu saya menggoreng krecek untuk dijadikan hidangan bersama. Suasana kebersamaan saya rasakan memang sangat kental.

Menjadi kepala desa di kampung memang penuh perjuangan. Itu bisa saya rasakan walaupun saat itu saya belum mengerti benar arti sebuah perjuangan. Rumah saya sering dijadikan untuk kelas B3B (program pemerintah waktu itu). Sering dijadikan tempat/basecamp para mahasiswa yang sedang KKN. Bahkan pernah beberapa kali jadi tempat pelarian. Pernah ada seorang wanita dari kampung lain, tapi masih dalam wilayah desa saya, yang mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Dia datang ke rumah saya untuk minta perlindungan. Akhirnya dia tinggal di rumah saya selama beberapa bulan sampai masalahnya bisa diselesaikan dengan bantuan ayah saya selaku kepala desa.

Kembali ke cerita orang tua saya. Ketika saya kelas 5 SD. Masa jabatan ayah saya sebagai kepala sudah habis. Saya tidak tahu persisnya berapa lama dia menjabat. Kata beliau sekitar dua puluhan tahun. Waktu itu memang belum ada peraturan jabatan kepala desa yang hanya 8 tahun.

Setelah pensiun dari kepala desa. Ayah memulai berbisnis untuk menafkahi keluarga. Perjalanan bisnis ayah saya cukup panjang dan akan saya ceritakan dalam postingan terpisah.

Sementara ibu saya sudah duluan merintis usaha warung kecil di rumah. Saya sering melihat ibu menggendong dagangan dari pasar di punggungnya. Saya sendiri senang sekali kalau melihat ibu datang dari pasar dengan bawaan yang banyak. Setiap belanja ke pasar untuk dagangan di warung kecil kami di kampung, Ibu tidak lupa selalu membeli dawet kesukaan saya. Namun Ibu tidak pernah membeli dalam jumlah yang banyak. Hanya beberapa bungkus saja. Itupun mesti dibagi untuk seluruh keluarga. Saya selalu merasa belum puas, setiap minum dawet tersebut karena rasanya memang enak sekali. Harganya waktu itu seingat saya hanya Rp. 25 . Ketidakpuasan itulah yang membuat saya selalu menunggu hari pasaran “wage” minggu berikutnya untuk bisa merasakan dawet kesukaan saya.

Saya juga sering disuruh belanja ke toko grosir yang letaknya kira kira 2 km dari rumah. dengan naik sepeda onthel saya biasa membawa dagangan di bagian belakang. Yang paling susah adalah ketika disuruh belanja minyak tanah. Meski memakai jerigen yang besar, dan diikat dengan sangat kuat, sebab kalau nggak kuat bisa "mlese" di perjalanan, apalagi jalanan di kampung saya waktu itu belum diaspal seperti sekarang.

Setelah lulus SD, saya melanjutkan sekolah ke kota Solo. Jarak rumah saya dan sekolah kira kira 25 km. Untuk menghemat ongkos, ayah memutuskan untuk memasukkan saya ke dalam sebuah pondok pesantren di Solo. Namanya Pondok Pesantren Nirbitan. Letak pondok tersebut tepat disamping sekolah saya. Hanya dipisahkan oleh pagar. Ustad di pondok tersebut juga banyak yang ngajar di SMP. Saya biasanya pulang dua minggu sekali untuk mengambil saku dan perbekalan. Tinggal di pondok ini merupakan sebuah pengalaman tersendiri bagi saya. Saya dipaksa keadaan untuk benar benar bisa mandiri. Dari rumah saya dibekali sebuah lemari kecil, satu tas pakaian ganti, sebuah kompor, panci dan peralatan masak lainnya. Ya..saya diminta memasak sendiri oleh ayah saya. Beras saya bawa dari rumah. Sementara untuk sayur dan lauk saya beli dari kantin yang ada di dalam pondok. Waktu itu kalau beli sayur Rp. 50,- dapat satu mangkok, dan bisa untuk makan sehari. Lauk tempe harganya Rp. 25,- per biji. Itu tahun 1989. Saku saya untuk satu minggu kurang lebih Rp. 1000,- . Mau tidak mau saya harus berpikir keras agar uang sejumlah itu bisa cukup untuk satu minggu. Disamping uang saku yang minim, Ibu saya kadang kadang juga memberi bekal lauk pauk yang sudah jadi seperti bandeng yang sudah digoreng, rempeyek dll. Pernah ada pengalaman yang lucu. Ibu saya pernah membawakan saya “bothok”, (sejenis sayur yang terbuat campuran kelapa muda dicampur melanding atau bahan lainnya dan dikukus.). Waktu itu saya berangkat dari rumah ke pondok Sabtu pagi, berhubung sekolah saya libur pada hari Jumat. Ternyata saya tidak sempat mampir ke pondok karena waktu sudah mepet dan saya takut kalau sampai terlambat. Akhirnya saya langsung ke sekolah. Sampai kelas , tas langsung saya masukkan dalam laci meja. Saya tidak ingat kalau didalamnya ada beberapa bungkus bothok sehingga tentu saja, karena karena posisi miring, kuah bothok yang sebetulnya sudah saya masukkan plastik tersebut, tumpah dan membasahi tas serta buku saya dengan aromanya yang khas. Bekas bothok tersebut lama sekali membekas di tas saya walaupun sudah saya cuci berkali kali.

Teman teman saya dipondok orangnya macam macam. Ada yang alim, tapi banyak juga yang nakal. Namanya juga remaja. Soal barang hilang itu sih sudah biasa. Entah siapa yang mengambilnya. Kompor dan panci yang saya bawa akhirnya juga harus dipakai sama sama. Apalagi para senior yang sering seenaknya main pakai saja, tanpa minta ijin dulu. Akibatnya ketika saya mau pakai buat masak, panci dan kompor masih mereka pakai. Saya pun harus ngalah dulu. Kalau sudah tergesa gesa, panci yang baru saja dipakai, begitu matang dan nasi sudah diambil, langsung saya isi beras untuk dimasak lagi. Udah gitu mereka juga jarang mengisi minyak sehingga saya sering mendapatkan kompor saya dalam kondisi kehabisan minyak. Akibatnya jelas, sumbu kompor cepat ludes sebelum waktunya karena dipaksa pakai padahal tidak ada minyaknya. Kalau sudah begitu, kompor saya bongkar untuk diganti sumbunya dengan yang baru.

Berhubung saya waktu itu rajin masak (soalnya nggak punya uang untuk jajan), ada temen dari Klaten yang mengajak kerja sama. Dia menawarkan untuk membawa beras dari rumah, sementara saya yang jadi tukang masak. Jadi saya tidak perlu lagi membawa beras dari rumah. Lumayan lebih irit, temanku tersebut juga lebih irit karena tidak perlu jajan setiap hari, tinggal beli sayur sama lauk aja.

Ketika masuk kelas tiga SMP, kebetulan takmir masjid/marbot yang jaga masjid Pondok, sudah lulus dan tidak bisa lagi tinggal di masjid. Saya diminta untuk menggantikannya. Setelah diangkat jadi marbot, saya tidak lagi tinggal dipondok yang waktu itu satu kamar ( sebelas satu kelas) dipakai untuk kurang lebih 20 orang. Saya kemudian tinggal di salah satu ruangan masjid, bersama seorang marbot lainnya. Namanya Saifudin, dia sekolah di SMA 7 Solo, sedangkan saya masih kelas 3 di SMP AL Islam I Solo. Pekerjaan saya antara lain merawat masjid, adzan, dan mengajar ngaji , termasuk membuka pintu masjid di pagi hari sebelum shubuh. Untuk yang satu ini tentu saja tidak boleh terlambat. Karena Imam Masjid, K.H. Ahmad Mustofa, seorang ulama terkenal di Solo, selalu datang sebelum waktu shubuh tiba. Hari pertama saya bertanggung jawab sebagai marbot, saya tidak bisa tidur pulas. Saya bangun sampai berkali kali. Hal ini mungkin karena ketakutan saya yang berlebihan jika sampai terlambat bangun. Padahal sebelum jadi marbot, saya kalau tidur juga dimasjid, beralaskan tikar tentunya. Sebab kami, para anak pondok, tidak boleh tidur di karpet. Untung di bagian dalam masjid, ada serambi yang beralaskan tikar. Tempat itulah yang biasa kami pakai untuk belajar dan tidur.

Bulan pertama setelah selesai sholat Jumat. Kami membuka dan menghitung uang pengumpulan kotak amal. Kotak amal yang dikeluarkan setiap jumat ini hanya dibuka sekali sebulan. Kuncinya dibawa oleh bendahara masjid, Pak Ustman. Beliau adalah salah satu guru ngaji saya yang tinggal di kompleks pondok juga. Beliau adalah menantu KH Abdullah Shomad almarhum. K.H Abdullah Shomad adalah kiai yang amat terkenal di kota Solo. Saya sendiri belum pernah bertemu kiai Abdollah Shomad (karena sudah almarhum) dan hanya bisa bertemu dengan Nyi Abdullah Shomad. Pondok Pesantren Nirbitan adalah salah warisan beliau. Setelah beliau wafat Pondok tersebut dikelola oleh oleh K.H Ahmad Mustofa (putra sulung) selaku sesepuh, dan Bapak Anwar Sholeh (putra bungsu) sebagai pengasuh.

Setelah kotak amal dibuka dan uang selesai dihitung, ternyata ada pembagian tunjangan/insentif buat marbot/penjaga masjid. Teman saya Saifudin, yang sudah lebih dahulu jadi marbot menerima tunjangan Rp. 3000,- dan saya, berhubung belum full satu bulan menerima tunjangan Rp. 1.500,- . Bukan main senangnya hati saya menerima uang tersebut. Karena dari awal saya memang tidak menduga akan menerima tunjangan seperti itu. Bisa tinggal gratis di masjid saja saya sudah sangat senang, karena saya tidak perlu lagi membayar uang pondokan setiap bulannya. Seingat saya gaji Rp. 1500,- itu adalah penghasilan /gaji pertama yang pernah saya terima. Uang sebesar itu bisa untuk beli sayur dan lauk untuk satu minggu ( waktu itu lho....sekarang mah udah nggak dapat lagi).

Semenjak tinggal di masjid banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Sering ada undangan untuk yasinan, tahlilan, sinoman dll. Undangan seperti itu merupakan kesempatan bagi saya untuk perbaikan gizi. Maklum jarang makan enak he..he. Sehabis yasinan / tahlilan biasanya masih diberi bekal makanan dalam dus untuk dibawa pulang plus sebuah amplop. Isinya tentu saja sangat lumayan untuk seorang anak kos. Praktis selama kelas 3 SMP, disamping sudah nggak bayar kos/pondokan lagi karena tinggal di masjid, saya sering menerima rezeki yang tak terduga , “min haisu laa yahtasib”.

Saya juga pernah diminta untuk guru privat mengaji untuk dua orang murid. Saya masih ingat namanya , Denni dan Shoim. Mereka dua kali seminggu, datang ke masjid untuk belajar ngaji. Pernah suatu ketika Denni memberikan sebuah amplop kepada saya, katanya titipan ayahnya. Saya sempat berdebar debar, jangan jangan surat teguran atau komplain. Mengingat selama ini saya merasa kurang optimal dalam mengajar mereka. Setelah saya buka, saya kaget luar biasa. Ternyata amplop tersebut berisi uang Rp. 5.000,- . Lagi lagi saya senang minta ampun. Karena saya tidak pernah membayangkan menerima pembayaran dari hasil mengajar tersebut.

Namun dukanya juga banyak. Saya juga kadang dimarahi Pak K.H. Ahmad Mustofa kalau memang lalai. Kalau saya bangun terlambat dia pasti membangunkan saya dengan menyabetkan sajadahnya. Beliau memang selalu datang ke masjid sebelum waktu shubuh tiba.

Saya lulus SMP Al Islam dan mendapatkan dua ijazah. Yaitu ijazah SMP dari Diknas dan Ijazah MTs dari Depag. Dalam ujian Tsanawiyah, saya malah meraih prestasi terbaik 3 ( the best top 3) se Solo/Surakarta, bukan hanya SMP Al Islam saja. Untuk ujian Tsanawiyah, waktu itu semua MTs swasta menginduk ke MtsN 1 Surakarta dan pihak Depag membuat grade hasil ujian untuk seluruh peserta. Termasuk didalamnya SMP Al Islam Solo, SMP As Salam, SMP Ta’mirul Islam, SMP Al Muayyad, dan SMP MTA dan SMP swasta Islam lainnya. Dengan bekal hasil ujian yang bagus tersebut saya berhasil masuk sebuah sekolah program khusus di Solo. Disanalah saya belajar dan tinggal di asrama selama 3 tahun. Teman teman di sekolah tersebut semuanya cerdas, karena salah satu syarat untuk bisa mendaftar adalah masuk 10 besar waktu lulus MTs. Itupun masih diseleksi karena kapasitas kelas program khusus hanya 40 orang saja. Salah satu teman sekelas saya adalah Habiburrahman El Shirozi, Penulis Novel Best Seller Ayat Ayat Cinta. Cerita seputar studi dan pengalaman saya di sekolah ini akan saya posting secara terpisah. So..bersambung ya, karena yang ini kayaknya udah kepanjangan.

Salam

Faif Yusuf

Tuesday, May 22, 2007

Tips : The Law of Pen and Paper

Jika anda mempunyai banyak masalah, ada satu tips yang sederhana tapi mempunyai kekuatan yang luar biasa, orang menyebutnya The Law of Pen and Paper. Seringkali dalam menghadapi masalah kita hanya memikirkannya dan membuat kita pusing. Cobalah untuk menuliskan apa masalah anda dalam secarik kertas, anda akan mendapatkan bahwa ternyata masalah anda itu tidak serumit sebelum anda menuliskannya.

Monday, May 21, 2007

Insight of the day

"There is a basic law that like attracts like. Negative thinking definitely attracts negative results. Conversely, if a person habitually thinks optimistically and hopefully his positive thinking sets in motion creative forces - and success instead of eluding him flows toward him."

Norman Vincent Peale
1898-1994, Minister and Author

Pasar Pagi Mangga Dua

Beberapa koleksi accecories Kafana Distro


Hari minggu kemarin saya jalan jalan ke Pasar Pagi Mangga Dua. Tentu saja ada tujuannya. Saya ingin melengkapi koleksi asesoris busana muslim di kafana distro. Selama ini saya merasa masih kurang memperhatikan produk asesoris ini. Padahal potensi keuntungan yang bisa didapat dari produk ini cukup besar. Maklum asesoris bisa dikatakan barang dengan harga "gelap". Terus terang saya belum tahu banyak soal asesoris. Namun saya bertekad untuk mau belajar.

Sampai di Pasar Pagi saya menyusuri toko asesoris satu persatu. Tentu saja fokus saya adalah toko asesoris saja. Kalau sampai tergoda untuk membeli di toko produk lain, bisa berabe jadinya. Maklum kalau ke sini godaannya banyak. Kalau cuma lihat lihat sih OK aja. Di lantai basement, saya sudah dapat barang bagus dan harganya saya rasa cukup murah. Cuma masih ada item lainnya yang belum saya dapat. Pengembaraan saya lanjutkan ke Lt. dasar. Diantara sekian banyak toko, saya melakukan transaksi di dua toko. Salah satunya dengan transaksi yang lumayan besar. Harganya cukup murah jika saya bandingkan dengan harga di toko lainya. Saya ingat sebuah bros yang dibeli istri waktu jalan jalan ke Tamini Square. Bros cantik tersebut dibeli dengan harga Rp. 15.000,-. Kemarin saya beli grosiran dengan harga per biji kenanya Rp. 3.750,-. Barangnya persis sama dengan yang pernah dibeli istri saya di Tamini Square. Wah...apa ini bukan barang "gelap"namanya. Toko saya juga pernah dititipi seorang teman aneka koleksi kalung cantik dengan harga Rp.25.000,- s/d Rp. 30.000,- kemarin saya dapet grosiran dengan harga Rp. 7.500,- Rp. 10.000,-

Setelah makan siang saya menuju Lt. 6 untuk sholat. Dalam perjalanan di lantai 3 saya menemukan lagi koleksi yang lumayan bagus. Ya udah..ambil aja selusin. Mushola di Lt. 6 letaknya di pojok, didekat ruang terbuka untuk parkir. Kondisi Mushola cukup bersih, namun sayang sepi sekali. Mungkin karena letaknya yang relatif jauh untuk diakses. Dari Pasar Pagi saya mampir ke ITC Mangga Dua. Kalau disini niat saya cuma "cuci mata" sambil membebaskan pikiran dengan harapan akan muncul ide ide segar. Saya perhatikan design toko, tata letak lampu, termasuk beberapa toko yang mengusung tema tertentu. Wah..kalau nggak ada sms dari istri untuk segera pulang, rasanya saya masih ingin melihat lihat geliat kehidupan disini.

Dalam perjalanan pulang dengan naik Mayasari P27, saya baca buku saku Pak Tung DW "The secret to be rich". Buku saku ini diberikan langsung oleh Pak Tung kepada saya bersama 3 buah cd audio lainnya, setelah mengikuti seminar One Minute Millionair di BPPT beberapa waktu yang lalu. Ada satu prinsip yang membuat saya seperti tersadar kembali : " Keuntungan didapat ketika membeli, bukan menjual". Saya pikir pikir... benar juga. Walaupun buku saku ini sudah pernah saya baca, tapi moment membaca setelah belanja di pasar pagi kemarin membuat kesan yang amat dalam di benak saya.

Salam
Faif

Saturday, May 19, 2007

Review e-book : Mindset Sukses

Kali ini saya ingin menulis review atas sebuah e-book luar biasa yang ditulis oleh sahabat saya Jennie S Bev. Di Indonesia, Jennie lebih dikenal sebagai penulis buku motivasi best seller : "Rahasia Sukses Terbesar" , dimana seluruh royalti dari penjualan buku tersebut disumbangkan sebagai amal. E-book berjudul “Mindset Sukses : Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial” ini dibagikan cuma cuma dan diluncurkan dengan cara yang amat unik. E-book ini bisa didownload secara gratis setelah email subscriber's Jennie mencapai seribu orang. Dalam waktu yang amat singkat sejak informasi ini di launching, jumlah tersebut terpenuhi sehingga e-book ini bisa segera dinikmati oleh para pembaca dimanapun secara gratis..tis..tis. E-book "Mindset Sukses" ini sebentar lagi juga akan diterbitkan oleh LPFEUI untuk memenuhi tingginya permintaan akan versi cetak di Indonesia.


Prinsip, strategi dan trik jalur cepat dalam e-book ini merupakan hasil kontemplasi, refleksi, dan sari dari perjalanan Jennie dalam usaha meraih kesuksesannya saat ini. Penjelasannya amat runtut dan mudah diimplementasikan.E-book ini bisa dikatakan merupakan cetak biru jalur cepat menuju sukses yang telah terbukti berhasil. Agar kita bisa menyerap ilmu dari e-book ini dengan optimal, sebelum membaca sebaiknya kita membuka hati dan pikiran seluas luasnya. Tinggalkan “I Know” attitude dan pikiran negatif lainnya.

Pembahasan dimulai dengan melakukan "cuci otak" para pembaca tentang sukses sebagai sebuah mindset. "Success is a mindset. It's not a journey, nor a destination. It's already within you". Jadi default state kita adalah sukses, bukan kegagalan. Mindset merupakan keyakinan teguh yang menjadi dasar dari semua respon dan interpretasi kita terhadap sesuatu. Mindset sukses yang diproyeksikan dengan benar akan menghasilkan berbagai konsekuensi sukses, termasuk sukses secara finansial. Ketika kita sudah meyakini bahwa diri kita ini sukses maka apapun yang kita ekspresikan merupakan personifikasi dari sukses itu sendiri.

Salah satu cara ampuh untuk menemukan sukses di dalam diri adalah dengan selalu bersyukur. Rasa syukur yang dalam ini menjadi dasar dari segala hal positif dalam persepsi kita. Rasa syukur inilah yang menjadi fondasi mindset sukses. Mindset yang tepat, diikuti dengan rasa syukur yang dalam dan keberanian untuk bertindak, akan memunculkan sukses di dalam diri kita. Sementara untuk memproyeksikan sukses tersebut, kita perlu menetapkan citra diri positif yang ingin kita pancarkan. Langkah berikutnya adalah dengan mengenali talenta, minat dan gaya belajar. Talenta merupakan sesuatu yang mudah bagi kita namun sulit bagi orang lain. Inilah yang menjadi "niche" pasar kita. Dengan menggali talenta, minat dan gaya belajar yang paling pas, kita bisa tahu inti keunikan diri kita untuk dioptimalkan.Tujuan finansial juga perlu dikuantifikasikan sehingga kita bisa menetapkan target dan memonitor progressnya. Namun yang perlu diingat bahwa mindset sukses yang internal merupakan penentu kesuksesan yang eksternal (uang), bukan sebaliknya.

Memberi adalah rahasia sukses yang terbesar. Memberi merupakan proses konfirmasi kelimpahan kita kepada alam semesta.Kita tidak perlu kaya secara finansial untuk bisa memberi. Apapun bisa kita berikan, ketrampilan, tenaga, ide dan sebagainya. Walaupun kita tidak berharap akan menerima balasan dari pemberian tersebut, namun biarlah "misteri" atas vibrasi positif atas pemberian tersebut menembus ruang dan waktu dan menjadi motivasi kita. Dengan memberi, sukses dari dalam berarti sudah dikeluarkan.

Kita juga dikaruniai waktu yang sama dan amat terbatas yaitu 24 jam. Kualitas kegiatan yang kita lakukan dalam 24 jam itulah yang akan sangat menentukan arah hidup kita.Demikian juga dengan karunia energi yang terbatas. Intensitas energi yang kita gunakan akan sangat mempengaruhi hasilnya. Membangun network, tidak hanya sekedar buat bisnis, tetapi lebih kepada membangun hubungan pribadi yang lebih dalam (persahabatan) juga merupakan salah satu prinsip sukses yang ditekankan dalam ebook ini. Network yang kita bangun tentu saja bukan untuk "aji mumpung", tapi benar benar kita bangun dengan tulus. Dengan menerapkan beberapa prinsip sukses ini secara konsisten, maka dipastikan kita akan bisa menemukan sukses di dalam diri dan memproyeksikannya keluar. Kita tidak perlu mencari sukses kemana mana. It's already within us.
Sayangnya, e-book ini tidak menjelaskan secara lebih detail langkah langkah teknis untuk bebas finansial dalam waktu satu tahun (cepat). E-book ini lebih menekankan pada perubahan atau pembentukan mindset yang tepat. Bagi mereka yang mengharapkan untuk mendapatkan skill teknis agar bisa kaya dalam waktu singkat, saya kira akan kecewa karena tidak akan mendapatkannya dalam e-book ini. Namun saya yakin mereka akan segera sadar akan potensi luar biasa dalam dirinya dan tidak akan menyesal setelah membaca e-book ini. Bagi yang belum sempat membaca e-book ini saya sangat merekomendasikannya. E-book ini bisa didownload di www.jennieforindonesia.com, cepetan aja yach. Soalnya kalau versi cetaknya udah terbit, download gratis tersebut akan segera ditutup.


Salam

Faif Yusuf

Owner Kafana Distro

Koleksi Terbaru Kafana Distro

Ini salah satu koleksi Kafana Distro. Setiap bulan selalu ada model baru.

Space kosong dalam photo di atas (pojok bawah) sebentar lagi akan saya bikin untuk display accecories. Sementara masih saya taruh di dalam etalase.


Display koleksi kafana di sisi kiri, gambar saya ambil setelah ada customer datang. Jadi ada beberapa bagian yang belum sempat dirapikan lagi



Suasana kafana distro di sore hari. Ternyata yang datang tidak hanya ibu ibu. Bapak Bapak juga banyak yang sering datang. Mereka justru kalau belanja selalu pilih yang eksklusif, biasanya buat surprise/ kado ulang tahun istri/anaknya. Kado tersebut dibungkus langsung di kafana . Nah...ini menjadi "side business" juga. Hasilnya lumayan karena frekuensinya cukup sering.

Friday, May 18, 2007

Kunjungan ke TDA Appentice & Alton Kids



Kunjungan ke Alton Kids di Tanah Abang Blok A Lt. Ground Los B 57-58
Dari sebelah kiri : saya (dan anak saya Ilham), Pak Husni, & Pak ALex
Pak Husni adalah Owner Alton Kids, Motivator dan Guru saya

Ikut juga dalam kunjungan ke Alton Kids, Bos Polly Jeans, Pak Herizal (Berbaju Putih), kalau Alton Kids di Lt. Ground, Polly Jeans ada di lt. 1 Los B 121-122 Blok A Tanah Abang.

Kunjungan ke TDA Apprentice di Ruko Baru Blok F Tanah Abang .Dari sebelah kiri Pak : Alex, Edi (Apprentice), Enon (Apprentice), Faif, dan Herizal

Istri saya sedang melihat lihat koleksi kerudung di ruko Pak haji yang diamanahkan kepada Ibu Sonya dan Ibu Eva. Disitu ada koleksi model terbaru yang belum ada di toko lain, harganya cukup bersaing. Istri saya sampai mborong lho.....


Didikan Pak H. Ali rupanya tidak sia sia, Pak Edi dan Pak Enon cukup piawai dalam menawarkan dagangan. Saya yang semula hanya berniat silaturohmi, akhirnya belanja juga.Tampak istri saya sedang melihat lihat koleksi mukena di ruko yang diamanahkan Pak H.Ali kepada Pak Edi dan Pak Enon.

Hari Kamis kemarin saya berkunjung ke Alton Kids dan TDA Aprrentice di Tanah Abang. Kunjungan ke Alton Kids saya lakukan sebagai respon atas undangan Pak Husni sebagai owner yang telah memberikan banyak ilmu dan motivasi kepada saya saat kunjungan ke PGS Solo minggu lalu. Pak Husni mengundang saya untuk melihat langsung bukti dilapangan dari apa yang diomongkan kepada saya. Beliau tidak ingin disebut NATO (No Action Talk Only). Sampai disana Beliau mempersilahkan saya untuk langsung melihat berbagai design, koleksi produk, interior toko dan strategi displaynya. Beliau juga menjelaskan secara detail konsep / fisolofi dari beberapa design yang dia buat. Luar biasa, dengan konsep dan design yang unggul tersebut, saat ini Alton Kids telah menjadi trend setter (bukan follower) diantara para "gajah" yang bermain di dunia fashion anak di Tanah Abang.

Inspirasi design ternyata Beliau dapatkan dari banyak sumber. Beberapa design terinspirasi dari keluarga (baik itu tanggal lahir, cita cita, moment penting dll), acara televisi yang sedang ngetop, kata kata motivasi, dan sebagainya. Yang jelas saya sempat terpukau ketika Pak Husni mampu menjelaskan makna dan filosofi dari setiap model/design baju produksinya.

Setelah berbincang panjang di Ground Floor Blok A , sayapun diantar menuju ke Jembatan Blok A Lt. II Los D-51. Ternyata disanalah cikal bakal Alton Kids dibangun, sampai menjadi trend setter di Tanah Abang sekarang. Perbincanganpun kami lanjutkan disana, masih seputar visi dan strategi dalam mengembangkan usaha.

Tidak terasa kunjungan dan sharing yang amat menarik tersebut memakan waktu lebih dari dua jam. Selama saya sharing, istri saya sibuk hunting berbagai produk untuk menambah koleksi kami di kafana distro.

Setelah pamit dari Alton Kids, saya dan "rombongan" kecil (Saya, istri, anak saya Ilham, Pak Herizal, dan Pak Alex) menuju ruko tempat TDA Apprentice. Sebetulnya keinginan untuk silaturohmi kesana sudah ada sejak lama. Namun baru kesampaian sekarang. Disana saya disambut oleh Pak Edi, Pak Enon, Ibu Sonya, dan Ibu Eva. Kebetulan Pak Endar (TDA apprentice juga) sedang tidak ditempat, katanya masih di Solo sehabis kunjungan ke PGS minggu lalu.Kamipun sharing seputar bisnis di kawasan Tanah Abang, termasuk ilmu yang diajarkan Pak H. ALi. Ada dua ruko baru yang diamanahkan Pak H. Ali ke TDA Apprentice. Satu ruko untuk grosir jilbab/kerudung ( dikelola Ibu Sonya dan Ibu Eva), dam satu ruko lagi buat grosir mukena (dikelola Pak Edi dan Pak Enon).

Setelah sharing dengan TDA Apprentice, saya masih melanjutkan agenda saya untuk hunting produk ke toko toko yang direkomendasikan Pak Rosihan. Terima kasih Pak Rosihan, atas rekomendasinya, sehingga saya tidak perlu menyisir satu persatu ribuan toko yang ada di Tanah Abang. Sebetulnya saya juga ingin sowan ke Pak H. Ali, namun ketika saya saya mau ke ruko beliau (tidak jauh dari ruko TDA Apprentice), saya diberi informasi oleh TDA appentice, bahwa beliau sedang tidak ditempat, sehingga saya tidak jadi sowan Beliau.

Sepulang dari Tanah Abang kurang lebih jam empat sore, perjalanan masih saya lanjutkan dengan naik taksi ke ITC Cempaka Mas untuk belanja Jilbab Permata dan beberapa produk lainnya. Perjalanan bisnis kemarin benar benar menyenangkan dan banyak memberi inspirasi buat saya.

Salam

Faif

Tuesday, May 15, 2007

Sepenggal Kisah Kehidupan

Photo saya (duduk di tengah berbaju putih) di Malioboro 12 tahun yang lalu.
Photo saya ambil di seberang lapak saya, posisinya di depan Toko Royal

Salah satu produksi UKM yang saya pasarkan di Pasar Beringharjo, Saya (ditengah pakai t-shirt) sering berkunjung ke berbagai UKM di daerah saya untuk ikut membantu pemasaran produknya


Motor diatas saya beli 100% murni dari bisnis batik ketika kuliah. Dibagian depan motor, terlihat tumpukan batik. Kalau pesanan dikit paling saya bawa dengan cara seperti itu. Tapi kalau banyak, saya masukkan karung dan saya ikat dibelakang. Motor tersebut sempat saya bawa ke Jakarta sebelum akhirnya saya jual kembali untuk tambahan DP toko, yang saya beli di sebuah Trade Center.


Selain ke Pasar Beringharjo, dulu saya juga supply ke berbagai toko di sekitar Keraton Yogyakarta. Salah satunya toko diatas.

Dulu saya sempat merasa sebagai orang yang kurang beruntung ketika menyadari betapa jalan yang harus saya lalui untuk menyelesaikan pendidikan sedemikian berat. Namun setelah banyak belajar dan bergaul dengan orang orang positif, saya kini justru bersyukur karena diberi kesempatan yang luar biasa untuk bisa mempunyai berbagai pengalaman hidup yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Cerita berawal ketika saya lulus SMA, dan harus melanjutkan ke pendidikan tinggi. Alhamdulillah saya diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, sehingga biaya yang harus dikeluarkan tidak terlalu tinggi. Dalam posting sebelumnya ( ongkos belajar ternyata mahal juga ya...), saya utarakan bahwa saya pernah ikut investasi sarang burung walet dan berakhir dengan kehancuran pada pertengahan tahun 1995. Waktu itu saya sedang masuk perguruan tinggi dan harus pindah ke Yogyakarta. Saya terus terang tidak berani lagi minta uang kepada orang tua, karena sebelumnya saya sudah minta uang dalam jumlah yang cukup besar, dan setelah saya investasikan ternyata malah hilang. Ekonomi keluarga saya juga sangat terganggu dengan keputusan investasi saya yang salah tersebut.
Waktu awal awal di Jogya adalah saat yang amat berat dalam hidup saya. Dengan modal yang amat minim saya berangkat ke Yogyakarta. Beberapa hari setelah saya menjalani kehidupan di kampus, bahkan Opspek pun belum selesai saya jalani, bekal sudah sangat menipis. Pada suatu malam dikantong saya hanya tinggal Rp. 200,- . Saya termenung, uang sejumlah ini untuk sekali makan saja tidak cukup. Pertama kali di Jogya saya kost di Karangmalang. Sekali makan dengan menu sederhana cukup dengan uang Rp. 250,- ( nasi sayur tanpa lauk), kalau tambah tempe satu jadi Rp.300,- karena harga tempe goreng waktu itu hanya lima puluh perak per biji.

Kebetulan saya ada libur beberapa hari setelah selesai Opspek dan tinggal menunggu malam inagurasi di Graha Sabha Pramana. Akhirnya malam itu saya keluar, berkeliling untuk mendapatkan solusi atas masalah yang saya hadapi. Terus terang saya malu kalau harus pinjam kepada teman. Kebetulan posisi mereka juga cukup jauh. Saya jalan kaki berkeliling sampai kemana kemana, sambil tanya sana sini. Namun belum ada juga respon untuk mendapatkan pekerjaan sambilan atau sementara untuk sekedar bisa makan. Malampun semakin larut. Dalam perjalanan pulang hati saya berdoa, Ya..Allah, saya sudah berusaha. Tolong tunjukkan jalan. Saya yakin engkau Maha Pemberi Rezeki. Sebetulnya saya belum hafal benar jalan jalan yang saya lalui, namun saya mencoba untuk PD aja. Sampai akhirnya saya mendapatkan sebuah bangunan yang nampak dalam proses renovasi. Aha.....mungkin ini jawaban atas doa saya. Saya langsung dapat ide untuk datang kembali esok harinya dan berusaha mendapatkan pekerjaan. Sayapun pulang dengan sebongkah harapan.

Paginya saya datang kembali ketempat tersebut. dan langsung menanyakan siapa mandornya. Setelah bertemu Pak Mandor saya langsung utarakan maksud saya untuk ikut bekerja. Mulanya dia keberatan, sudah nggak butuh pekerja lagi katanya. Setelah saya berusaha meyakinkan bahwa saya bisa melakukan pekerjaan yang dibutuhkan akhirnya dia mau menerima. Sayapun langsung bekerja pada proyek tersebut. Pekerjaan saya adalah membuat rangka/otot otot besi untuk cor coran pondasi dan rangka beton. Pertanyaannya : kok bisa ya. Saya sendiri heran, kok nekad banget. Namun saya bertekad untuk cepat belajar. Saya lihat rekan kerja yang punya tugas serupa, namanya Iman. Saya masih ingat namanya karena ini adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Saya tinggal tiru saja caranya dan bersemangat dalam melakukannya. Sayapun "kebetulan" sudah punya pengalaman sedikit tentang pekerjaan bangunan seperti itu. Rumah saya dikampung letaknya persis didepan masjid. Masjid tersebut sering mengalami perbaikan dan perluasan. Renovasi terus dilakukan. Ayah saya sering meminta saya untuk ikut bekerja membantu dia dan para tukang batu. Nyampur adonan pasir dengan semen, mengolahnya sampai siap dihidangkan kepada bapak tukang. Juga membengkokkan besi besi kecil untuk jadi rangka / otot otot bangunan dengan bantuan alat tertentu. Walaupun hasilnya tidak sebagus kerjaan para tukang, tapi yang penting memenuhi syarat untuk dipakai.

Ternyata hari tersebut adalah hari Jumat. Ketika saya tanya ke tukang lainnya sholat Jumat dimana. Mereka keheranan. "Loh...sholat disini saja", kata mereka, "khan ini masjid". Subhanallah...saya baru sadar kalau yang sedang direnovasi tersebut adalah bangunan masjid IKIP Yogyakarta (sekarang jadi UNY). Rupanya kami sedang membangun dua buah menara masjid beserta teras masjid bagian depan. Sedangkan bagian utama tidak direnovasi dan bisa difungsikan untuk sholat. Saya bener bener tidak menyangka dan tidak melihat ternyata dibalik tumpukan material itu adalah masjid. Maklum saya bener bener belum tahu daerah tersebut.
Maka saya pun sholat Jumat ditempat kerja tersebut, tinggal membersihkan badan dan ganti pakaian. Sampai saat ini setiap kali lewat masjid tersebut, saya tidak pernah lupa pengalaman yang saya dapatkan di tempat tersebut.
Satu lagi pengalaman hidup yang amat berharga. Ketika hari besoknya (sabtu siang), saya masih kerja di proyek tersebut. Malam harinya adalah malam inagurasi mahasiswa baru. Saya kebetulan didaulat untuk menjadi salah satu dari beberapa mahasiswa baru yang diminta untuk memberikan "orasi kebangsaan". Kebetulan sewaktu penataran dan opspek saya bisa dibilang cukup "vokal" sehingga terpilih untuk menyampaikan orasi tersebut. Berpidato dengan suara lantang di depan ribuan mahasiswa baru merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya saat itu. Apalagi pada siang hari nya saya harus bekerja keras untuk sekedar bisa makan. Sungguh pengalaman yang amat kontras dan heroik. Setelah pidato kebangsaan saya berkesempatan berdialog dengan Ketua Senat Mahasiswa saat itu. Sampai sekarang diapun masih mengenal saya walaupun sudah agak lama kami tidak saling bersilaturohmi.

Saya bekerja selama beberapa hari di proyek tersebut, karena masa perkuliahan sudah mulai tiba. Hasil bekerja selama beberapa hari tersebut bisa saya gunakan untuk bertahan selama beberapa waktu, sampai akhirnya saya bertemu dengan kakak kelas saya sewaktu SMA. Sebetulnya jarak angkatan kami cukup jauh, sehingga kami tidak pernah ketemu waktu di SMA. Saya kenal dia karena kami sama sama alumni pengurus Dewan Ambalan Pramuka di sekolah. Dalam sebuah reuni, kami bertukar pikiran tentang banyak hal dan sampai pada persoalan rezeki. Dia akhirnya menawarkan kepada saya untuk ikut bergabung dengannya berdagang di Jl. Malioboro Yogyakarta. Disamping kuliah di IAIN Yogya dia punya dua buah lapak di Jl. Malioboro. Barang yang dijual adalah aneka kerajinan seperti miniatur dari kayu (mobil,kapal,becak dll), topeng, dan lain lain.
Di sela sela kuliah, sayapun mulai menjalani profesi sebagai pedagang kaki lima di Malioboro. Buka jam sepuluh pagi, tutup jam sembilan/sepuluh malam. Di Malioboro saya banyak mendapatkan pelajaran kehidupan. Cuma ada aja teman saya yang nyeletuk kalau saya mau berangkat dagang. Wah..mo kuliah ke UGM nih ( UGM : Universitas Gelandangan Malioboro..he..he.). Untuk memudahkan mobilitas, dari kost ke Malioboro,sayapun membeli sebuah sepeda bekas di pasar Terban. Waktu itu harganya Rp. 34.000,- (murah sekali ya..). Ya jelas murah, karena kondisinya juga sudah amat memprihatinkan, tetapi yang penting bagi saya bisa membantu mobilitas, berhubung bis kota di Yogya hanya beroperasi sampai sekitar jam enam sore aja. Otomatis kalau malam hari saya kesulitan transportasi untuk pulang dari Malioboro.

Selama kurang lebih setahun saya ikut teman saya tersebut. Saat berjualan di Malioboro saya berkenalan dengan seorang produsen kaos kaki yang murah murah (waktu itu harga jualnya Rp. 1000.- per pasang, grosirnya bisa 50% dari harga jual). Setelah terkumpul sedikit modal, dan keinginan untuk mandiri, akhirnya saya pamit kepada teman saya dan memutuskan untuk berdagang kaos kaki di Solo. Tempat berdagang yang saya pilih, diantaranya daerah wisata keraton solo, gladak/dibawah pohon beringin (samping PGS sekarang), daerah Sriwedari dan Jurug. Berhubung masih kuliah saya mengangkat anak buah sebanyak dua orang dengan sistem bagi hasil. Barang saya supply dari Yogya. Hasilnya lumayan juga, bisa untuk makan dan membayar biaya kuliah. Namun usaha ini tidak bertahan lama, kurang lebih hanya satu tahun, karena karyawan yang sebelumnya gabung dengan saya memilih untuk bekerja lagi ditempat lain, dan saya tidak berhasil mendapatkan penggantinya. Namun ada pengalaman unik yang sering membuat saya tertawa geli kalau mengingatnya. Pernah suatu waktu saya berdagang di arena Pasar Malam di Sriwedari Solo. Pasar malam sendiri berlangsung cukup lama lebih dari dua minggu. Disamping saya menggelar dagangan, ada seorang pedagang pria yang masih muda, dan berjualan sabuk. Kamipun langsung akrap. Cuma sayangnya walaupun akrap, tapi tidak tahu nama. Kalau nyapa ya..hanya "mas" gitu aja. padahal kita ngobrol banyak setiap malam. Pernah suatu ketika saya sedang naik sepeda di Jl Slamet Riyadi Solo, tiba tiba ada suara lantang yang memanggil saya dan suara itu sepertinya saya kenal. Panggilannya seperti ini : " haaaiiiiiii....kaaaoosss kaaaakiiiiiii". Sayapun menoleh ke seberang jalan, dan dengan refleks menjawab dengan keras agar terdengar oleh dia : " haaaiiiiii....saaaabuuukkk". Ha..ha.....masak saya dipanggil kaos kaki dan dia saya panggil sabuk.Ternyata memang penting untuk tahu nama seseorang.

Setelah usaha kaos kaki saya tutup, sayapun kembali membuka usaha lain. Waktu bulan Ramadhan, saya berjualan kurma, majalah dan buku buku Islam. Pernah juga berjualan salak pondoh, hiasan dinding dg kata kata motivasi, dan sandal. Untuk sandal ini saya membelinya dari Cirebon, kalau nggak salah namanya pusat perdagangan sandal di daerah Panembahan/Plered. Sekali belanja bisa satu sampai dua karung besar. Sandal ini saya pasarkan di Yogya dan di Solo.Saya belanja dengan naik kereta ekonomi . Pernah suatu pagi ketika akan ke Cirebon, saya ketinggalan kereta. Ketika tiba di stasiun lempuyangan, kereta sudah bergerak, sayapun panik karena belum sempat beli tiket. Orang orang disekitar saya berseru : udah pak..cepet naik aja, mbayarnya diatas. Rupanya keputusan yang saya ambil terlambat, saya memutuskan untuk loncat masuk pintu kereta ketika kereta sudah berjalan agak kenceng. Karena saya belum pernah punya pengalaman loncat meloncat di kereta, badan saya terhempas, dan terlempar beberapa meter. Beruntung saya bisa segera mengendalikan diri dan ada yang menolong sehingga tidak sampai luka parah, hanya lecet lecet saja. Usaha sandal inipun tidak berjalan lama, kurang dari satu tahun.

Bermula dari pesanan temen untuk dicarikan kaos krah batik, saya hunting pesanan tersebut ke daerah saya yang kebetulan sedang bermunculan banyak konveksi. Pertama saya ambil satu kodi, dan setelah barangnya cocok produk tersebut laku terjual. Sayapun termotivasi untuk belanja lebih banyak dan menawarkan kepada orang orang yang saya kenal. Dari sini saya mendapatkan ide, kenapa tidak ditawarkan saja ke pedagang di pasar Beringharjo.Toh..saya mengambil langsung dari produsennya. Siapa tahu harganya masih masuk. Sayapun survey ke pasar Beringharjo. Ternyata sudah ada produk sejenis dengan merk berbeda. Saya membelinya untuk dibandingkan dengan produk saya di kost. Setelah yakin bahwa ternyata produk saya lebih bagus, hari berikutnya saya datang lagi dan menawarkan dengan sample yang sudah saya bawa. dan aha.....deal terjadi, sayapun dapat satu customer. Pesananpun mulai mengalir. dari satu customer, bertambah lagi menjadi dua, dan akhirnya tiga customer pedagang grosir. Hari hari sayapun kemudian diwarnai dengan keluar masuk pasar Beringharjo, baik untuk mengantar barang maupun menagih pembayaran. Disinilah pertama kali saya tahu sistem pembayaran dengan giro. Namun alhamdulillah saya belum pernah mendapatkan giro kosong. Berhubung masih sambil kuliah, melayani tiga orang customer saja sudah cukup menyita energi waktu itu. Apalagi saat saat ramai. Bahkan pernah dalam satu masa peak season (lebaran & liburan sekolah), saya sampai bersitegang dengan konveksi partner saya karena pesanan saya tidak dipenuhi semuanya. Saya sampai sering dikomplain karena tidak sanggup menyediakan sesuai jumlah yang diminta customer. Namun pernah juga ketika slow season, barang saya numpuk di kamar kost. Saya belajar, menyusun skripsi, dan tidur disela sela dagangan batik yang menggunung dikamar. Apalagi nyaris setiap minggu ada kiriman barang dari konveksi, padahal tidak saya pesan. Ya..begitulah kalau lagi slow season.
Usaha batik yang hanya bermula dari kaos krah ini kemudian melebar ke jenis batik lainnya, daster, baju anak, setelan, baju tidur, dll. Beberapa sample produk saya pajang di kamar kost saya di daerah Ambarukmo. Teman teman saya sampai ketawa tawa kalau lagi main ke kost. Masak daster perempuan di pajang dikamar. Hal ini saya lakukan karena kadang kadang ada temen kuliah dari luar daerah yang datang ke kost untuk belanja dan dikirim ke daerahnya (biasanya luar jawa). Untuk itu saya harus siap dengan contoh barang dan display yang menarik. Begitu pembelaan saya, padahal risih juga.

Usaha jualan batik ini alhamdulillah bertahan paling lama, walaupun persaingan semakin ketat dan margin semakin tipis. Berkat usaha ini saya berhasil menyelesaikan studi S1 saya. Tepat sebulan setelah saya diwisuda, saya diterima bekerja disebuah perusahaan multinasional di Bekasi. Dengan niat untuk mencari pengalaman baru, usaha ini saya serahkan ke adik saya yang kebetulan sedang kursus komputer di Yogya. Namun sayang setelah beberapa bulan saya dengar dari adik saya bahwa dia tidak bisa lagi mengelola usaha ini, karena persaingan yang amat ketat dan kesibukan kuliah. Usaha inipun dengan berat hati terhenti. Sewaktu tinggal di Jakarta dan akhirnya sekarang tinggal di Bekasi, saya sempat mau mencoba memulai lagi usaha ini, namun selalu ada alasan yang "tepat" untuk menundanya. Sayapun lebih banyak melakukan usaha yang sifatnya patungan dan investasi . Berhubung tidak fokus dan tidak punya DSA (Dreams Strategi Action) yang jelas, beberapa usaha yang saya jalankan mengalami kegagalan, namun saya yakin semua usaha yang telah saya lakukan tersebut tidak akan sia sia. Kadang score saya memang minus, tapi kadang juga plus. It's just a game. Kalau lagi minus, ya...saya akan berpikir dan belajar supaya jadi plus lagi. Semoga dengan terus belajar seperti ini, score saya akan semakin sering dan terus menjadi plus.
Amin

Salam
Faif Yusuf

Indahnya Masjid Kampusku

Masjid Kampus UGM dari depan..megah ya...


Masjid Kampus dari samping Kanan,
Photo saya ambil dari dekat tempat Wudhu


Tempat Imam dan Mimbar yang indah


Bedugnya besar juga ya...

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Yogyakarta. Pertama kali datang, tempat yang menjadi tujuan pertama saya adalah masjid kampus UGM. Saya ingin sekali melakukan sholat tahiyyatul masjid dan beri'tikaf sebentar disana. Walaupun bukan pertama kali saya melihat kemegahannya, namun kalau datang dan melihatnya saya masih terkagum kagum, apalagi saya mempunyai pengalaman tersendiri tentang proses berdirinya masjid ini.

Dulu sebelum punya masjid, kami para civitas akademika UGM biasa melakukan sholat Jumat di Gelanggang Mahasiswa. Tempat ini sehari hari dipakai untuk untuk kegiatan mahasiswa (UKM : Unit Kegiatan Mahasiswa), mulai dari kegiatan keislaman Jamaah Sholahuddin, Olahraga, Mapala, BEM, Senat dsb.
Namun khusus untuk hari Jumat, semua kegiatan diliburkan dan tempat ini dipakai untuk sholat Jumat. Ruangan utama yang dipakai untuk Jumatan adalah lapangan bola basket. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya membersihkan tempat yang biasa dipakai buat olahraga kemudian untuk sholat. Saya sendiri biasanya membantu mengelar tikar dan merapikan kembali setelah Sholat Jumat. Berhubung tikar yang harus dirapikan jumlahnya amat banyak, kegiatan ini cukup membuat badan pegal pegal. Pernah dalam suatu kesempatan, seusai Sholat Jumat Sang Imam mengajak seluruh jamaah untuk berdoa bersama sama. Salah satu doa yang saya masih sangat ingat adalah ratapan kami tentang ketidakmampuan kami untuk segera mewujudkan sebuah masjid kampus. Doa tersebut diulang ulang dengan intensitas yang semakin meninggi. Sang Imam yang memimpin doa sampai menangis dan diikuti oleh para jamaah, termasuk saya. Air mata saya tidak tertahan, badan saya merinding. Kami semua khusyuk dalam lantunan doa, agar diberi jalan untuk bisa mewujudkan berdirinya masjid kampus yang diidam idamkan. Dalam hati kami, para jamaah, mengadu kepada Allah SWT, bagaimana mungkin salah satu universitas tertua dan terbesar di Indonesia tidak mempunyai sebuah masjid kampus. Kami meratap kepada Allah SWT.

Disamping berdoa, kamipun bahu membahu, bergandengan tangan untuk mewujudkan cita cita tersebut. Semua pihak berusaha memberikan kontribusi sesuai kemampuan masing masing. Akhirnya setelah keputusan tempat pembangunan masjid diambil (di bekas sebuah kuburan China di Bulaksumur), progress pembangunan pun tahap demi tahap mulai terealisir. Kisah pembongkaran kuburan China itupun sempat dijadikan cerita bersambung di harian Jogya Post waktu itu. Ketika saya lulus, Alhamdulillah Masjid sudah bisa difungsikan walaupun pembangunannya belum selesai semua. Sekarang setiap kali berkunjung ke Yogyakarta, saya selalu berusaha untuk datang ke masjid kampus ini. Sholat tahiyyatul masjid dan beri'tikaf di dalamnya. Hati ini terasa damai luar biasa.

Salam
Faif

Monday, May 14, 2007

Pusat Grosir Solo


Dari sebelah kiri Bapak: Anas, Bayu, Arif, Tito, Alex, Faif, Dudun, dan M Riza.

Yang tidak ada diphoto Bapak : Afrizal, Abduh, Endar
(Kebetulan mereka tidak ditempat saat itu)

Suasana Presentasi dari pihak Marketing PGS

Photo bersama sehabis jalan jalan di keraton dan sharing,

dari sebelah kiri Pak : Arif, Budi Prayitno, Faif, ALex

Photo bersama guru baru saya, Bp Husni Zarkasih,

Seorang entrepreneur sukses, Pemilik Alton Kids

Hari Sabtu-Minggu kemarin, saya bersama beberapa teman TDA menghadiri undangan dari Pusat Grosir Solo. Dari Jakarta ada enam member TDA : Saya, Alex, Abduh, Dudun, Endar, dan Arfizal. Dari Semarang hadir Pak Tito. Dari Solo hadir Pak Arif, M Riza, Anas, dan Bayu. Pada hari kedua sebelum pulang saya juga sempat bertemu dengan Pak Budi Prayitno, member TDA Jogya yang sekarang tinggal di Solo.

Kami dari jakarta berangkat bersama anggota Koperasi Pedagang Pasar Tanah Abang (KOPPAS) dengan mengendarai satu buah bus, berangkat dari perguruan Said Naum tanah abang. Pak H. Alay merupakan Ketua KOPPAS periode 1999-2006. Sampai di Solo kami istirahat sejenak di Hotel Grand Setiakawan. Tepat jam sepuluh pagi kami meluncur ke PGS untuk menghadiri presentasi dan sekaligus survey kios secara langsung. Acara pada hari pertama tersbut selesai jam empat sore.

PGS terdiri dari lima lantai : basement, ground, Lt 1,2 dan 3. Secara umum kondisi perdagangan sudah mulai ramai. Barang dagangan didominasi oleh fashion ( batik, busana muslim dll). Untuk lantai basement, ground dan lantai satu, bisa dikatakan 90% kios sudah buka. Sedangkan Lt 2, masih kosong sama sekali dan belum dibikin kios, sementara Lt.3 untuk foodcourt. Blok di Lt 2 yang masih kosong inilah yang ditawarkan PGS kepada anggota Koppas dan anggota TDA yang hadir untuk diisi. Namun sayangnya belum ada sensational offer dari pihak PGS kepada kami yang hadir. Mereka hanya menawarkan paket standar yang ditawarkan kepada calon konsumen pada umumnya ( secara retail). Yaitu sewa jangka waktu 2 tahun, 6 tahun, dan 20 tahun. Sementara kami member TDA dan para anggota Koppas berharap adanya paket penawaran yang lebih menarik kalau membeli/menyewa secara bersama sama.

Setelah survey hari pertama, saya dan temen temen TDA mengadakan pertemuan di hotel Grand SetiaKawan (tempat kami menginap). Acara kami isi dengan perkenalan lebih jauh antar member, bisnis yang dijalani dan WIFLE (What I Feel Like Expressing). Pertemuan ini juga merupakan pertemuan TDA Solo Semarang yang pertama. Pak Tito dari Semarang bercerita tentang bisnis bale bengongnya, usaha rental mobilnya (meski skr armada baru satu dan sambilan , siapa tahu kalau diseriusi akan tambah besar), dan juga target untuk resign dan full TDA pertengahan tahun ini ( ditunggu ya pak..sharing big winningnya). Pak Arif dari Solo bercerita tentang proses usahanya untuk meng"online" khan batik laweyan dan juga rencananya untuk menggenapkan separoh agamanya (nikah) pada pertengahan bulan depan (ditunggu undangannya ya pak, Insya Allah banyak yang mendoakan). Pak Anas yang mewakili Pak Pangestu Hadi, dan siap gabung dengan TDA Solo, bercerita tentang usaha penerbitan yang dirintisnya dan telah meluncurkan lima buah buku. Pak Riza melalui Yayasan Duta Awan sharing tentang usahanya untuk memasarkan produk produk pertanian yang lebih memberikan nilai tambah sehingga para petani bisa lebih sejahtera ( mulia sekali misinya Pak..). Pak Alex bercerita tentang bisnis salon dan spa islami yang didirikannya di Surabaya. Rumahnya di Surabaya, lantai 1 buat salon & spa. Lantai 2 buat kost kost-an. Wah..wah...diam diam Pak Alex sudah bisa menikmati passive income dari kedua usahanya tersebut(selamat..selamat..). Pak Dudun bercerita tentang usahanya dalam bidang penerbitan, content provider dan EO dengan bendera "Bianglala Kreasi Media". Sayangnya Pak Abduh dan Pak Afrizal tidak bisa mengikuti pertemuan ini, karena ada acara / presentasi dengan client / atau calon client ( Pak Abduh nampaknya malah dapat customer baru di PGS..hayo disharing pak..). O....ya pada hari kedua, alhamdulillah saya juga bisa bertemu Pak Budi Prayitno. Beliau bercerita tentang usaha kontraktor yang sekarang dijalaninya. Kami doakan Pak semoga Bapak sukses dengan usaha yang kesekian kalinya ini.

Pada hari kedua, acara diisi dengan olah raga pagi di Manahan dan jalan jalan ke Keraton Solo. Sebelum akhirnya kumpul lagi di PGS dan pulang kembali ke Jakarta pada hari minggu jam tiga sore. Saat kembali ke Jakarta memang belum ada closing pembelian/penyewaan baik dari member TDA maupun anggota KOPPAS. Sensational offer seperti uji coba gratis selama sekian bulan, dan harga sewa rombongan yang lebih menarik sudah diajukan, dan Pihak PGS masih akan mempertimbangkannya.Follow up berikutnya tetap akan dilakukan oleh Pihak PGS dengan pihak KOPPAS. Kemungkinan PGS akan memberikan undangan untuk survey berikutnya mengingat potensi mendapatkan tenant baru yang sudah amat sulit kalau hanya mengandalkan tenant dari pedagang disekitar Solo saja.

Saya sendiri merasa mendapat manfaat yang sangat besar dari kunjungan ini. Dengan silaturohmi ini saya jadi lebih banyak mengenal dan belajar dari para pedagang tanah abang. Salah satu pedagang yang banyak memberikan ilmunya kepada saya adalah Bp. Husni Zarkasih. Beliau adalah seorang Master (S2) lulusan UI yang bisa dibilang sukses di tanah abang. Thesis yang ditulisnya juga tentang perdagangan garment yang ada di tanah abang sehingga dia amat tahu peta perdagangan di pasar regional tersebut. Sebelumnya dia bekerja sebagai profesional di Krakatau Steel. Tapi karena keinginannya yang kuat untuk menjadi tangan diatas, maka dia keluar dan mendirikan sebuah pabrik garment untuk ekspor. Selama tujuh tahun dia sukses mengembangkan perusahaannya, sebelum akhirnya bangkrut karena krisis moneter di Indonesia waktu itu. Country Risk yang amat tinggi saat itu menyebabkan para pelanggannya tidak berani lagi membeli produk dari Indonesia. Namun kebangkrutan tidak menyebabkan dia menyerah. Dia pun memutuskan untuk bangkit kembali dan memulai usaha kembali dari nol. Mobil kesayangannya pun dia jual sebagai modal untuk memulai bisnis garment,kali ini dia mencoba untuk menggarap pasar domestik. Pilihan tempat usaha jatuh ke pasar pagi mangga dua, sebelum akhirnya bisa melakukan penetrasi di lokasi strategis/prestisius di Pasar Tanah Abang Blok A lantai Ground, dekat pintu masuk utama. Beliau sangat senang dengan visi TDA, dan ingin mengetahui lebih jauh tentang komunitas ini. Maka saya rekomendasikan blog Pak Roni untuk dia kunjungi. Bahkan beliau juga siap jika diminta untuk sharing di komunitas TDA tentang bagaimana dia berhasil merubah kondisi " from zero to hero". Cara berkomunikasipun sangat berbeda dengan pedagang tanah abang pada umumnya, benar benar seorang pedagang yang punya "Dreams Strategy Action". Saya pun awalnya terkejut. Ada seorang master lulusan UI yang menjadi pedagang sukses di tanah abang. Produknya pun kini banyak dipakai untuk syuting sinetron produksi MD entertainment dan sudah tersebar di banyak banyak dept store, diantaranya Ramayana, Robinson, Borobudur, Pojok Busana dll. Diantara rekan TDA yang lain, saya mungkin yang paling beruntung banyak mendapat sharing darinya karena beliau memilih saya untuk menginap satu kamar dengannya di hotel. Bahkan pada hari minggu pagi, saya diajak untuk ikut menjenguk sejenak anaknya yang kuliah di UGM Yogya dengan mengendarai taksi. Apabila tawaran sharing "from zero to hero" mendapat respon positif dari teman teman TDA, silahkan TDA EO mengagendakan waktunya, dan saya siap untuk menjadi penghubung. Sebaiknya waktunya juga jangan terlalu lama, mumpung kesan dan keingintahuannya tentang TDA masih hangat. Saya yakin banyak manfaat/ ilmu yang bisa kita pelajari darinya.

O..ya, bagi rekan rekan yang berminat untuk mengetahui potensi PGS lebih jauh bisa langsung menghubungi pihak marketing promotion PGS Bp. Iwan Setiawan ( 0815 673 7510 )

Salam

Faif